Assalamualaikum saya usia 40 th memiliki sifat sensitif suka dengan romantis baru berhenti kerja karena anak tidak ada yang urus, meninggalkan perkerjaan untuk anak tapi ternyata suami ga terlalu bela atau royal ke saya, dulu saya belum menyadari nya, karena lebih banyak mandiri klo mau apa bisa beli sendiri kr tau suami jarang menyetujuinya, semenjak saya berhenti pun bgtu kr masih ada tabungan saya umroh bayar sendiri mau pergi ke malaysia aja anak pun harus bayar sendiri, padahal saya tau suami berpenghasilan besar tapi kalau ditanya ga ada agenda ga mau jalan2 ke luar negeri padahal ipar saya umroh dan jalan keluar negeri ada rezeki dibayari suami nya knp saya suami ada rezeki tapi ga mau bayarin saya, padahal saya tau dia ada uang nya, saya juga hanya minta sekali saja, kadang saya menyesal kenapa berenti kerja kr suami perhitungan dan ga royal juga dalam membahagiaman saya juga perhatian kasih sayang sulit kr yg ego gengsi dingin pendiam, kadang saya merasa kesepian dan sudah bila capek ddgn rumah dan anak anak kadang butuh perhatian suami tapi dia tak kunjung paham. Semenjak saya berenti kerja saya rasa suami semakin keras dan ego tinggi padahal saya berenti kerja juga kr dia dan anak2 juga atas izin persetujuan suami kr dia bilang saya serinv keluar kota anak ga ada yg jaga, tp ternyata saya ga bahagia kr ga dihargai suami dan keluarga nya. kko saya punya salah atau kekurangan langsung di ceplosin semenjak saya ga bekerja lagi seperti tidak dihargai.
Belum lagi masalah dg kelharga suami baik ipar dan mertua kadang nyinyir salah paham ke saya di bilang saya punya pohon buah ga tapi banyak buah nya duren buah nya, atau dibilang klo istri saya bolehin saya juga bolehin ngasih ke keluarga, saya di sindir gt
Padahal selama rumah tangga saya berkerja dulu udh masing2 pegang keuangan sendiri jdi bukan sayang yg melarang tau aja saya tidak jadi ada kesalahpahaman, tapi ego nya keluarga dia menyalahkan saya terlalu sensitif baper
Padahal jujur manusiawi saya ga suka diperlakukan bgtu saat mudik, jdi skrg saya enggan u mudik kr takut terluka dan suami pun cuek ga membela hanya mendengarkan dan ga percaya, tetap membela sodara nya, apakah saya harus tetap mudik menengok mertua saya sedanvkan saya merasa tidak nyaman di sana
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
Menanggapi apa yang Anda sampaikan mengenai sikap suami yang Anda nilai kurang empati, kurang royal dalam memberi nafkah, kurang mendukung pendirian Anda, serta cenderung lebih memihak keluarga sendiri (orang tua dan ipar), terutama setelah Anda berhenti bekerja, maka dapat kami sampaikan beberapa penjelasan dan saran sebagai berikut:
Dahulu Anda mandiri dengan penghasilan sendiri sehingga kebutuhan pribadi dapat Anda penuhi tanpa bergantung pada suami. Apa pun yang Anda inginkan dapat Anda capai dengan uang Anda sendiri. Sementara kini, ketika pemasukan keluarga hanya dari suami, wajar bila Anda merasa tidak mendapatkan kembali apa yang dulu biasa Anda penuhi sendiri. Kondisi memang sudah berubah, sehingga pola pengeluaran pun tidak bisa sama seperti sebelumnya.
Sikap suami yang lebih perhitungan sebenarnya bukan hal baru. Dulu pun sebagian keinginan Anda tidak dipenuhi suami karena dianggap di luar agenda atau prioritasnya. Hanya saja, saat itu Anda tidak terlalu merasakan kekurangannya karena Anda masih bisa memenuhi kebutuhan pribadi sendiri. Maka ketika sekarang suami tetap bersikap perhitungan, hal itu terasa lebih berat. Bukan semata karena suami berubah, tetapi karena Anda tidak lagi memiliki sumber penghasilan pribadi.
Cobalah melihat dari sudut pandang suami. Ketika sumber keuangan keluarga hanya berasal dari satu pihak, tentu pengaturannya berbeda dengan saat dua orang bekerja. Suami bisa jadi berfikir lebih menyeluruh tentang kebutuhan keluarga, memilih mana yang prioritas dan mana yang dapat ditunda. Bukan berarti ia tidak sayang kepada Anda, tetapi mungkin ritme keinginan Anda tidak sejalan dengan pola perencanaan keuangannya.
Terkait sindiran atau cibiran dari keluarga suami, sebaiknya tidak perlu terlalu Anda masukkan ke hati. Setiap keluarga memiliki karakter, pola komunikasi, dan cara pandang yang berbeda. Tidak semua orang bisa memahami kondisi dan perjuangan kita. Yang mereka inginkan terkadang hanyalah agar kebutuhan dan kepentingan mereka terpenuhi, tanpa mau tahu persoalan yang Anda hadapi dalam rumah tangga. Karena itu, fokuslah pada ketenangan diri dan keluarga inti Anda.
Jika Anda merasa tidak nyaman ketika berada di rumah keluarga suami, maka pertimbangkan mudik dengan melihat manfaat dan mudaratnya.
Silaturahmi tidak harus dilakukan dengan mudik panjang. Bisa melalui kunjungan singkat, telepon, atau cara lain yang tetap menunjukkan hormat tanpa mengorbankan ketenangan Anda.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi pertimbangan yang bijak dalam mengambil keputusan. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)