Assalamuallaikum warahmatullah wabarakatuh, Pak Ustadz saya adalah seorang suami, saya dulu lajang menikah dg seorang perempuan yg sudah punya anak, umur saya terpaut 8 tahun dari istri (istri lebih tua) saya sudah 10 tahun menjalani bahtera rumah tangga tapi anak dari istri saya seorang perempuan udah kelas 3 SMA, sedang anak kandung saya juga perempuan kelas 2 SD, yg jadi masalah sampai skrg anak tiri saya blm bisa menerima saya bahkan menanggap saya sangat hina di matanya, saya mengetahui lewat HP dia waktu saya nelpon utk menanyakan peralatan aksesori kucing kami di simpan di mana krn dia yg selalu nyimpan seperti gunting potong kuku kucing, baju kucing dll.... saya pikir HPnya di bawa ke sekolah ternyata ditinggal di rumah, saya kaget pas nelpon via WA mengetahui di kontak HP dia, saya dikasih nama "anjing rabies" saya langsung terpaku, sekeji itu dia pantasan sikapnya selalu kasar. Gara-garanya dulu sewaktu SMP saya tegur krn masih SMP udah suka main pacar-pacaran. Dia gak terima & marah seiring waktu berjalan komunikasi terjalin udah seprti semula saya pikir udah beres ternyata dia masih menyimpan dendam..Saya sakit hati banget dg perlakuan kasar anak tiri saya apalagi menganggap saya ini anjing. Pak Ustadz, apakah rumah tangga ini perlu dipertahankan atau harus diakhiri? mengingat kalo saya bertahan saya sakit banget rasanya gak pingin lihat dia selamanya tapi gak mungkin gak lihat mukanya krn kami serumah, tapi kalo saya akhiri rumah tangga ini saya berat sekali meninggalkan anak saya yg masih kelas 2 SD, dia sangat sayang ibunya gak mau pisah sama ibunya, andai saya bawa pulang ke kampung halaman saya di Jawa pasti pikiran anak saya terguncang tapi saya juga gak sanggup pisah dari anak saya. Saya jadi dilema pak Ustadz. Sekian dari saya, Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Ahmad
Medan
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Menjadi ayah sambung atau ayah tiri memang bukan perkara yang mudah, terlebih ketika anak tiri belum mampu menerima atau memandang ayah tirinya sebagai orang tua sendiri. Bisa jadi ia memiliki alasan tertentu untuk menjaga jarak, baik alasan tersebut benar maupun keliru menurut pandangan orang dewasa.
Sebagai contoh, ketika Anda menegur anak tiri perempuan yang masih duduk di bangku SMP karena berpacaran, teguran tersebut sejatinya wajar dan bertujuan melindungi. Namun, bagi anak seusianya, teguran itu bisa dianggap berlebihan. Karena ia marah tetapi belum mampu mengungkapkannya secara terbuka, maka kemarahan itu diekspresikan dengan cara yang keliru, misalnya dengan memberi nama Anda di ponselnya sebagai “anjing rabies”. Sebuah ungkapan yang tentu menyakitkan hati dan merendahkan martabat.
Meski demikian, sebaiknya Anda tidak menyikapi sikap tidak sopan tersebut secara berlebihan. Ungkapan seperti itu hanyalah luapan emosi sesaat dari seorang remaja, yang insyaAllah dapat berubah dengan keteladanan dan sikap baik Anda. Apabila Anda tetap bersikap tenang, tidak mengungkit nama yang tertera di ponselnya, dan terus memperlakukannya dengan baik, akan tiba masanya hati anak tersebut melunak dan sikapnya berubah.
Teruslah berbuat baik dan jangan terlalu menghiraukan penamaan tersebut. Sangat mungkin nama itu diberikan dalam kondisi emosi dan kemarahan, bukan sebagai sikap yang lahir dari kebencian yang mendalam.
Yakinlah, kebaikan akan melahirkan kebaikan. Sebaliknya, kemarahan yang dibalas dengan kemarahan hanya akan menimbulkan kerusakan yang lebih besar. Maklumilah, ia masih dalam masa remaja yang emosinya belum stabil dan masih membutuhkan bimbingan dengan kesabaran.
Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)