Was Was Dosa

Lain-lain, 19 Januari 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum, saya sempat dekat dengan teman laki2 saya yang sudah beristri yang pernikahannya sedang di ujung tanduk. Dia yang mulai mendekati saya duluan awalnya dekat sebagai teman, kami tidak pacaran/berzina, saya tidak menggoda dia, tidak berusaha merebut dia dari istrinya atau memisahkan mereka berdua dan tidak ada chat mesum atau mesra, komunikasi hanya seputar kehidupan sehari2 dan permasalahan rumah tangganya tetapi memang kami beberapa kali makan siang sepulang kantor tanpa sepengetahuan istrinya dan kami akui kami memang terlalu dekat hingga saya baper, tetapi dia tidak. Beberapa waktu kemudian dia menalak istrinya karena istrinya nusyuz tetapi istrinya menuduh dia selingkuh hanya berdasarkan satu chat masalah pekerjaan dengan teman perempuannya (bukan dengan saya) sebenarnya perpisahan mereka tidak ada sangkut pautnya dengan saya tetapi saya sangat merasa bersalah dengan posisi saya, apakah saya berdosa?? Jika iya bagaimana saya bertaubatnya?? Terimakasih banyak atas jawabannya



-- Bella (Semarang )

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Apabila Anda pernah dekat dengan seorang laki-laki yang telah beristri, dan pada saat itu ia serta keluarganya memang sedang berada di ujung permasalahan, kemudian ia menceraikan istrinya bukan karena kedekatannya dengan Anda, melainkan karena sebab-sebab lain yang telah ada sebelumnya, maka Anda tidak perlu terus-menerus merasa bersalah atau menuduh diri sendiri sebagai penyebab hancurnya rumah tangga tersebut. Sebab, perpisahan itu akan tetap terjadi, baik suami tersebut dekat dengan Anda maupun tidak.

Namun, apabila Anda tetap merasa bersalah dan karena itu ingin bertaubat, maka taubat yang benar memiliki beberapa tahapan yang perlu dilakukan, yaitu:

  1. Melepaskan diri dari segala perbuatan dosa serta hal-hal yang mengarah kepada perbuatan dosa, sebagaimana seseorang melepaskan pakaian kotor dari tubuhnya.
  2. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, yang dapat diwujudkan dengan meningkatkan ketakwaan, memilih lingkungan dan teman yang baik, serta menjaga diri dari sebab-sebab yang dapat menjerumuskan kembali pada dosa.
  3. Memperbanyak dan meningkatkan amal kebajikan, karena amal kebajikan dapat menghapus dosa-dosa di masa lalu.
  4. Apabila kesalahan atau dosa tersebut berkaitan dengan hak orang lain, maka wajib meminta maaf kepada yang bersangkutan, mengembalikan haknya, atau mengganti kerugian yang ditimbulkan serta meminta kerelaannya.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
(as)



-- Amin Syukroni, Lc