Saya menikah sudah hampir 9 tahun dan dikaruniai 2 anak ( putra dan putri)
Kami menikah melalui jalur ta'aruf dari teman saya, setahun pernikahan kami mendapat ujian 2 kali keguguran qadarullah saat keguguran kedua ayah saya meninggal dunia ini menjadi guncangan bagi saya yg saat itu masih belum kering darah kegugurannya, Momen yg memilukan saya pulang ke rumah orang tua tanpa pendampingan siapapun karena pihak suami meminta suami tetap bekerja dan meminta saya plg sendiri, dimulai muncul rasa kecewa kepada suami dan rasa sakit sekaligus sedih.
Setelah kejadian itu saya meminta untuk pindah rumah karena saya menjadi tidak tenang tinggal bersama mertua terus menerus. Akhirnya kami pindah, tetapi tidak ada perubahan yg pasti dari sikap dan perilaku suami. Dia terus saja hanya mendengarkan pendapat orangtuanya dan mengabaikan saran dan juga perasaan saya sebagai istri saya terus saja dibuatnya kecewa hingga bertahun-tahun tetap seperti itu mau bagaimanapun saya mencoba memberinya saran tetapi tetap saja tidak diindahkan sampai di satu titik saya memilih berani bertahan dengan pendirian saya untuk mengakhiri sikap mertua yg terus mendominasi rumah tangga saya disitu suami masih berusaha untuk mencari pembenaran sikap orang tuanya. Saya mulai lelah dan sempat alami depresi saat mengandung anak kedua saya hampir bunuh diri dan berhasil dicegah .
Akhir tahun 2025 saya memutuskan untuk mengunjungi psikiater dan mengonsultasikan apa yg saya alami termasuk percobaan bunuh diri. Tapi meski tau kondisi saya seperti itu suami masih terus mengabaikan dan hanya bersikap baik saat ingin memuaskan hasrat saja.
Saya mulai menarik diri darinya, dan akhirnya membuat saya menjadi sulit menghormatinya sebagai suami. Karena saya merasa keluarga tidak menjadi prioritas bagi suami. Bahkan untuk setiap keinginan kecil saya dan anak-anak dia selalu menunda hingga tidak pernah terealisasi tetapi jika orang tuanya menginginkan sesuatu dia akan mewujutkannya meski harus berhutang.
Saya terus merasa kecewa dan itu menjadi sebab kami sering ribut, suami terus menganggap ini perkara remeh tetapi hati saya yg sudah tidak sanggup lagi menahan kecewa.
Apa yang harus saya lakukan jika rumah tangga ini masih layak untuk dipertahankan?
Apakah saya yang kurang bersabar dan takabbur?
Saya sering menangis tiap malam karena merasa frustasi menghadapinya, orang tuanya. Saya menjadi pribadi yg lebih buruk sekarang menjadi mudah marah, kasar, padahal saya seorang penyanyang dan welas asih sebelum menikah.
Wa‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Anda mengeluhkan sikap suami yang dirasa kurang peduli terhadap kondisi Anda, cenderung meremehkan masalah yang Anda sampaikan, serta keberatan terhadap sikap mertua yang terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga. Kondisi tersebut menimbulkan tekanan batin yang berat hingga membuat Anda mengalami stres dan depresi, sehingga perlu berkonsultasi dengan psikiater.
Adapun beberapa saran yang dapat kami sampaikan adalah sebagai berikut:
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat dan menjadi sebab datangnya ketenangan serta kebaikan bagi Anda.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. (as)