Assalamualikum, izin bertanya, saya adalah orang yang gagal menikah karena ketahuan pergi dengan laki laki lain di hotel, saat itu saya kira hanya calon suami saya yang mengikuti saya, tetapi ternyata juga dengan ibunya, saya sangat menyesal, namun hal itu tidak bisa diterima oleh calon suami dan keluarganya, setiap hari saya cemas dan menyesal, saya mencari ceramah atau nasehat tetapi mayoritas ceramah ditujukan kpd org yg disakiti pdhl org yg menyakiti seperti saya ini jg butuh arahan dan nasehat sehingga hal itu membuat saya merasa hopeless dan cemas ditambah lagi ternyata dia dan keluarganya menceritakan ke org lain ttg saya dgn laki2 lain di hotel, saya malu sekali
saya sudah meminta maaf ke mantan calon suami dan orang tua, tp sampai skrg calon saya menekan saya utk menceritakan detail yang saya lakukan di hotel, namun saya berusaha menutup aib saya, dia tetap menekan dengan dalih utk bentuk tanggung jawab saya thdp psikis beliau yang rusak krn perbuatan saya, saya sudah menyesali perbuatan, menutup akses dan pintu maksiat saya dgn teman saya tersebut, dan berusaha memperbaiki diri dan bertaubat kpd Allah tetapi saya merasa cemas apabila orang2 semakin banyak yg tau, dan dia juga mengatakan akan menuntut penjelasannya di akhirat.
saya bingung harus bagaimana, mohon nasehatnya terimakasih..
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Anda telah menyadari kesalahan yang menyebabkan gagalnya rencana pernikahan, dan akibatnya Anda harus menghadapi tekanan mental serta sosial. Kesalahan pergi ke hotel bersama laki-laki lain tidak dapat diterima oleh calon suami dan keluarganya.
Semua telah terjadi. Anda sudah menyadari dan menyesali perbuatan tersebut. Kini yang Anda inginkan adalah dimaafkan, diterima kembali sebagai pribadi yang lebih baik, serta dapat menjalani hidup dengan tenang tanpa terus-menerus dihantui rasa bersalah, dan memiliki harapan baru untuk masa depan yang lebih baik.
Beberapa saran yang dapat Anda lakukan agar kehidupan Anda ke depan lebih baik dan terhindar dari keputusasaan (hopeless), antara lain:
Jangan mengatakan, “Seandainya aku tidak melakukan ini, pasti aku sudah menikah…” karena sikap seperti itu hanya akan membuka pintu keputusasaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan bersikap lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, janganlah berkata: ‘Seandainya aku melakukan begini dan begitu, tentu akan menjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena sesungguhnya kata ‘seandainya’ membuka pintu setan.” (HR. Muslim no. 2664)
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada; iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya; dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987, hasan shahih)
Perbaikan diri yang konsisten akan membuat orang lain melihat perubahan Anda dan, insya Allah, lebih mudah memaafkan masa lalu.
عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” (HR. Bukhari)
Jika Allah telah menutup aib Anda, maka jagalah penutup itu dengan taubat dan perubahan.
Demikian yang dapat disampaikan. Semoga Allah menerima taubat Anda, mengganti kesedihan dengan ketenangan, serta membukakan masa depan yang lebih baik.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(as)