Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh...
Izin bertanya Ustadz, bagaimana caranya menerima dan ikhlas atas perbuatan istri yang telah berselingkuh hingga HS berkali2 dengan selingkuhannya selama 8 bulan?
Kenapa saya mau menerima istri saya kembali? karena pertimbangannya adalah, kami telah mengenal satu sama lain dari umur 12 tahun. Istri saya adalah adik dari teman saya. Kami hijrah ke manhaj Salaf sejak tahun 2015 hingga saat ini (insyaaAllah). Alhamdulillah kami menikah di tahun 2019 dan itupun kedua orang tua kami yang menentukan pernikahan ini (karena orang tua kami saling mengenal, kebetulan kami 1 komplek).
Selama kenal dengan istri saya, dia adalah orang yang sangat lurus dan baik akhlaknya, tidak mau disentuh oleh pria dan cenderung takut namun ramah kepada siapapun. Istri saya selama inipun tidak pernah berhubungan dengan siapapun kecuali dengan saya. Selama kami menikah, kami jarang sekali mempermasalahkan apapun, jikalau ada, selalu kami kembalikan kepada quran dan sunnah sehingga rumah tangga kami adem ayem saja. Orang lain pun menilai rumah tangga kami harmonis (Alhamdulillah). Istri saya penyabar, penurut, akhlaknya baik, lembut dalam bertutur kata, tidak pernah membangkang, selalu mengutamakan suami, dll.
Namun di tahun 2025 awal (januari), istri saya diamanahkan oleh orangtuanya untuk mengurus bisnis orangtuanya (kost-kostan) karena menurut orangtua istri saya, hanya istri saya yang paham teknologi & teknik pemasarannya (menjadi ibu kost). Saya sempet agak ragu karena akan terjadi yang namanya ikhtilath, namun istri saya bilang bahwasannya hanya itu yang bisa dia lakukan untuk berbakti kepada orangtuanya (kami sudah pisah rumah, dan bisnis ini dilakukan jarak jauh), hingga akhirnya atas udzur tersebut saya persilakan. Dan benar saja, istri saya sangat sibuk sekali dengan HPnya semenjak diamanahkan menjadi ibu kost oleh orangtuanya.
Singkat cerita, disinilah perselingkuhan terjadi, istri saya kenal dengan seseorang yang (menurutnya) sosok pria yang baik dari aplikasi ini (pencarian kost-kostan). Awalnya niat istri saya hanya membantu mencarikan kost untuk si pria ini, karena kebetulan kost milik ortunya sedang penuh (kebiasaan istri berbuat baik kepada siapapun), namun lama kelamaan istri saya terbuai oleh manisnya mulut si pria ini (Love bombing). Istri saya terkena manipulasi oleh mulut manisnya si pria ini, mulai dari berani buka aurat (rambut), hingga (maaf) berani menemui si pria ini secara nekat tanpa izin saya dan meninggalkan anak dirumah (dititipkan ke adiknya), sehingga terjadilah perzinahan (terbukti dari chat & foto yang saya temukan selama periode bulan juni-oktober).
Sampai akhirnya di bulan oktober, atas izin Allah saya menemukan notifikasi dari HP istri saya (saya tipikal suami yang tidak pernah check2 hp istri & selalu berkhusnudzon) dari bidan yang mana isinya adalah penjelasan hasil Lab pemeriksaan kesehatan seksual. Disitu saya tanya istri saya kemudian istri saya mengaku bahwasannya ia telah berselingkuh.
Saat ini istri saya telah bertaubat nasuha dan kembali ke manhaj Salaf, istri saya Alhamdulillah mendapatkan hidayah kembali yang telah Allah beri. Tahajjud tiap hari, dhuha tiap hari, dzikir pagi petang, baca quran tiap hari, dll. Namun sampai saat ini, 3 bulan pasca ketahuan selingkuh, saya masih sulit sekali menerima kembali istri saya ini. Saya takut menjadi orang yang dzalim karena mungkin hampir setiap hari kami berdiskusi hal ini (untuk mencari tau akar masalahnya dan mencari jalan keluar terbaik apakah cerai atau lanjut). Jazakallahu khayr
Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Setiap manusia berpotensi untuk berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang mau bertaubat. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.” (HR. Imam Tirmidzi)
Istri Anda telah mengakui kesalahannya dan menyatakan telah bertaubat kepada Allah dengan taubat nasuha. Ia juga berusaha menebus kesalahannya dengan memperbanyak amal saleh, seperti shalat tahajud, shalat dhuha, berdzikir pagi dan petang, serta berbagai kebaikan lainnya.
Jika ia benar-benar telah kembali ke jalan yang benar dan berusaha memperbaiki kualitas dirinya, maka sepantasnya ia mendapatkan kesempatan dan penerimaan dari Anda sebagai suaminya. Namun, apabila Anda masih merasakan kecewa dan marah atas perbuatannya, hal itu adalah sesuatu yang manusiawi dan wajar.
Akan tetapi, jika perasaan tersebut terus menghantui dan Anda telah menyatakan memaafkannya, maka sebaiknya kurangi membahas serta mengungkit masa lalunya. Biarkan luka itu sembuh perlahan seiring waktu. Terimalah bahwa ini adalah bagian dari ujian dan takdir Allah atas diri Anda, yang pasti mengandung hikmah, meskipun belum sepenuhnya terlihat saat ini.
Namun, jika sampai sekarang Anda belum mampu menentukan sikap terbaik—antara mempertahankan rumah tangga atau memilih berpisah—maka libatkanlah Allah dalam urusan ini melalui shalat istikharah. Mohonlah petunjuk kepada-Nya agar diberikan pilihan terbaik bagi Anda dan keluarga.
Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan istikharah kepada para sahabat dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan satu surat dari Al-Qur'an. Beliau bersabda:
إِذَ هَمَّ أَحَدُ كُمْ بِاْلأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيْضَةِ، ثُمَّ لْيَقُلْ : اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (ا َوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ (أَوْ قَالَ: فِيْ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ) فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ قَالَ : وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ
“Jika salah seorang di antara kalian berkeinginan keras untuk melakukan sesuatu, maka hendaklah dia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat wajib, dan hendaklah dia mengucapkan : (‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon petunjuk kepada-Mu dengan ilmu-Mu, memohon ketetapan dengan kekuasan-Mu, dan aku memohon karunia-Mu yang sangat agung, karena sesungguhnya Engkau berkuasa sedang aku tidak kuasa sama sekali, Engkau mengetahui sedang aku tidak, dan Engkau Mahamengetahui segala yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (kemudian menyebutkan langsung urusan yang dimaksud) lebih baik bagi diriku dalam agama, kehidupan, dan akhir urusanku” –atau mengucapkan : “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka tetapkanlah ia bagiku dan mudahkanlah ia untukku. Kemudian berikan berkah kepadaku dalam menjalankannya. Dan jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agama, kehidupan dan akhir urusanku” –atau mengucapkan: “Baik dalam waktu dekat maupun yang akan datang-, maka jauhkanlah urusan itu dariku dan jauhkan aku darinya, serta tetapkanlah yang baik itu bagiku di mana pun kebaikan itu berada, kemudian jadikanlah aku orang yang ridha dengan ketetapan tersebut), Beliau bersabda : “Hendaklah dia menyebutkan keperluannya” (HR. Bukhari)
Shalat istikharah adalah shalat sunnah dua rakaat yang dapat dilakukan kapan saja, selama bukan pada waktu-waktu yang dilarang untuk shalat, yaitu setelah shalat Asar hingga terbenam matahari, saat matahari terbit, saat matahari tepat di atas kepala, dan saat matahari terbenam.
Lakukan istikharah beberapa hari hingga hati Anda memperoleh ketenangan dan kemantapan dalam memilih, apakah bertahan atau berpisah. Setelah mendapatkan keyakinan, segeralah mengambil keputusan dan bersiap menerima segala konsekuensinya.
InsyaAllah, keputusan yang diambil setelah melibatkan Allah melalui istikharah akan lebih mendekatkan kepada kebaikan di masa depan, meskipun mungkin terasa berat atau tidak menyenangkan saat ini. Yakinlah bahwa apa pun yang Allah pilihkan, itulah yang terbaik bagi hamba-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab. (as)