Ibu

Pernikahan & Keluarga, 2 Februari 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr.wb.

Ibu saya saat ini tinggal dengan saya yang sebelumnya tinggal dengan kakak di Jakarta tetapi ad konflik dengan anak mantu. Sekarang sdh beberapa bulan tinggal di sidoarjo dan juga berkonflik karena selalu ingin dituruti kemauannya, sementara rumah tangga kami bukan yang berkecukupan, sy dan istri berusaha mengakomodasi tetapi tetap sj kurang, apa yang bisa sy dan istri lakukan, mohon pencerahannya sesuai aturan agama islam jangan sampai saya menjadi anak durhaka. Terimakasih sebelumnya.



-- Cecep Vernadi (Sidoarjo)

Jawaban:

Wa’alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Setiap anak tentu ingin berbakti kepada orang tuanya dan berusaha menjauhi segala hal yang dapat menyakiti hatinya, dengan memberikan sesuatu yang dapat membuatnya senang dan bahagia. Namun, tidak semua anak memiliki kemampuan untuk memenuhi seluruh harapan orang tuanya.

Menanggapi kegelisahan Anda yang merasa belum mampu membahagiakan orang tua sebagaimana yang diinginkannya, maka hendaknya Anda tidak berlebihan dalam merasa berdosa atau menganggap diri telah durhaka, selama Anda telah berusaha semaksimal mungkin memperlakukannya dengan baik. Berikanlah apa yang Anda mampu, dan jangan memaksakan diri untuk memberikan sesuatu di luar kemampuan Anda.

Hal ini karena Allah hanya membebani hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 286:

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.’”

Yang tetap wajib diberikan kepada orang tua adalah sikap hormat, berbuat baik, dan mempergaulinya dengan cara yang ma’ruf, selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Allah juga berfirman dalam Surah Luqman ayat 15:

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya. Namun, pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik. Ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka akan Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Oleh karena itu, Anda dan istri tidak perlu merasa risau apabila tidak mampu menuruti semua keinginannya yang berada di luar kemampuan. Jika Anda memaksakan diri hanya untuk memenuhi keinginan orang tua hingga melampaui batas kemampuan, bisa jadi hal itu termasuk bentuk kezaliman terhadap diri sendiri.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc