Perselingkuhan

Pernikahan & Keluarga, 3 Februari 2026

Pertanyaan:

Assalammualaikum wr wb,

Selamat sore ustadz/ah, saya ingin bertanya apakah wajar bagi saya merasa iri hati dengan seseorang yg pernikahannya harmonis tanpa ada perselingkuhan di dalamnya. Saya telah berumahtangga selama 10tahun, ada fase di mana kami harus menjalani LDM karena pekerjaan masing2. Dan setelah saya mutasi ke kota tempat tinggal kami, saya mendapati suami sudah berselingkuh selama 4tahun lamanya, sedangkan LDM kami hanya 2tahun. Saya merasa terpuruk, dikhianati, dibohongi oleh orang yg selama ini saya anggap rumah. Selama LDM pun saya mengusahakan utk pulang setiap minggu. Namun suami saya ternyata berselingkuh ketika dia melaksanakan tugas luar kota. Saya mengetahui dari chat mesra mereka sudah berhubungan badan beberapa kali dan banyak foto dan video bugil wanita tsb. Bagaimana sebaiknya saya mengatasi rasa iri hati saya terhadap kebahagiaan rumah tangga orang lain? Kami memutuskan utk tetap bersama tapi hati saya sudah hampa dan tidak bahagia. Mohon nasihatnya.

Wassalammualaikum wr wb.



-- MY (TKY)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Setiap orang tentu ingin memiliki pasangan yang baik, setia, dan bertanggung jawab. Sangatlah wajar jika hati merasa terluka ketika terjadi pengkhianatan dalam rumah tangga. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap keluarga pasti mengalami fase ujian atau “badai”. Badai itu bisa berupa masalah ekonomi, campur tangan orang tua atau mertua, hadirnya PIL atau WIL, dan berbagai persoalan lainnya.

Badai akan berlalu bagi mereka yang mau bertahan dan saling menguatkan. Namun, ia bisa menghancurkan mereka yang lemah komitmennya dalam berumah tangga. Di sinilah pentingnya setiap pasangan kembali menguatkan tujuan awal membangun keluarga, mengingat kembali harapan bersama, serta memperbarui komitmen dengan komunikasi yang lebih dewasa. Menghidupkan kembali suasana kebersamaan—meski tidak seperti masa bulan madu, namun dengan kematangan sikap dan pemahaman—akan sangat membantu memperkokoh rumah tangga.

Terkait rasa iri, pada dasarnya setiap manusia pernah merasakannya. Iri terhadap kelebihan yang dimiliki orang lain adalah sesuatu yang manusiawi, meskipun tidak boleh dipelihara. Jika diperturutkan, iri hati hanya akan merusak diri sendiri, menumbuhkan prasangka, dan membuat seseorang merasa paling menderita dibandingkan orang lain.

Untuk menghilangkan sifat iri—atau setidaknya meringankannya—beberapa hal berikut bisa dilakukan:

  1. Catat dan syukuri kebaikan dalam keluarga.
    Tulislah berbagai hal positif yang ada dalam keluarga, mulai dari kebaikan kecil hingga yang besar. Kebiasaan ini akan membantu menumbuhkan rasa syukur dan menutup celah hati yang selalu fokus pada kekurangan.
  2. Sadari bahwa setiap keluarga memiliki ujian masing-masing.
    Ada masalah yang tampak dan ada yang disembunyikan. Sering kali yang tidak tampak justru lebih besar. Karena itu, keluarga lain terlihat lebih baik. Pepatah mengatakan, “Rumput tetangga tampak lebih hijau,” padahal bisa jadi mereka juga sedang menghadapi ujian yang berat.
  3. Perbanyak kebaikan untuk menutup kesalahan masa lalu.
    Setiap kesalahan selalu ada jalan untuk memperbaikinya. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an bahwa kebaikan dapat menghapus keburukan (QS. Hud: 114). Maka, daripada terus mengungkit masa lalu, lebih baik memperbanyak amal dan kebaikan baru agar luka lama perlahan tertutup dan tergantikan dengan kenangan yang lebih baik.
  4. Putuskan hal-hal yang memicu luka dan iri.
    Jika ada barang, foto, video, kontak, atau media sosial yang membangkitkan kenangan buruk dan memicu rasa iri, maka sebaiknya dihapus dan dijauhkan. Ini bagian dari kesungguhan dalam bertaubat dan menjaga hati agar tidak terus tersakiti.
  5. Perbanyak doa dan mendekat kepada Allah.
    Mintalah kepada Allah agar dibersihkan hati dari penyakit hasad dan iri. Hati yang dekat dengan Allah akan lebih mudah merasa cukup, tenang, dan ridha dengan ketentuan-Nya.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari sifat iri dan menggantinya dengan rasa syukur, qana’ah, dan ketenangan dalam rumah tangga. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc