Pertanyaan:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Saya ingin bertanya, jika saya mengetahui bahwa alas sendal seseorang mengenai najis (bukan najis anjing atau najis berat lainnya). Lalu sekitar 7 hari kemudian saya bertemu dengan orang tersebut dan berjalan dengannya dengan kondisi jalan basah akibat hujan. Saya tidak tahu apakah beliau telah mencucinya atau tidak tapi jika dilihat dari atas itu terlihat bersih sedangkan untuk bagian alasnya saya tidak tahu karena tidak memeriksa juga. Jadi pertanyaan saya, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus berprasangka baik bahwa ia telah mensucikan sekalipun saya tidak tahu itu? Atau apakah saya harus berhati-hati dengan setiap langkahnya?
--
SNM (Paser)
Jawaban:
Wa alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Dalam situasi yang anda jelaskan, panduan dari para ulama terkait najis yang tidak terlihat jelas adalah sebagai berikut:
- Anda seharusnya berprasangka baik bahwa orang tersebut telah mensucikan najis dari alas sandalnya, terutama karena sudah lewat waktu yang cukup lama (sekitar 7 hari) dan secara visual bagian atas sandal tampak bersih. Dalam syariat Islam, keyakinan akan adanya najis tidak boleh didasari oleh keraguan semata.
- Hukum Asal Sesuatu adalah Suci: Segala sesuatu hukum asalnya adalah suci sampai ada keyakinan yang pasti akan kenajisannya. Keraguan anda tentang apakah najis masih ada atau tidak, tidak mengubah hukum asal kesucian benda tersebut.
- Anda tidak perlu berhati-hati dengan setiap langkahnya atau khawatir secara berlebihan. Interaksi normal, termasuk berjalan bersama di jalanan yang basah, tetap diperbolehkan. Tidak ada kewajiban bagi anda untuk memeriksa alas sandalnya atau menanyakan perihal najis tersebut kepadanya.
Anda tidak perlu melakukan apa-apa selain melanjutkan interaksi dan aktivitas anda seperti biasa. Keyakinan akan adanya najis yang terjadi seminggu lalu telah hilang dengan adanya kemungkinan kuat (prasangka baik) bahwa najis tersebut sudah dibersihkan, sesuai dengan prinsip fikih Islam bahwa keyakinan tidak bisa dihilangkan oleh keraguan.
Demikian,semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'ialikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA