Assalamu'alaikum..
Saya seorang istri , saya bekerja , dan pernikahan saya sudah berjalan 10 tahun. Selama 10 tahun ini pasti banyak masalah-masalah yg terjadi di rumah tangga saya. Sampai saya merasa kesepian , disepelekan , tidak dihargai. Dan akhirnya saya bertemu dengan laki laki (yg sudah beristri). Dia seumuran dengan saya , kami beda kantor tapi komunikasi kami sangat intens , yg awalnya saya hanya ingin berteman tapi kami malah saling memiliki perasaan. Saya mendapatkan apa yg tidak saya dapatkan dari suami saya dan kami memutuskan untuk menjalin hubungan. Sampai di bulan ke 3 , istrinya mengetahui hubungan kami. Dan akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini (lewat chat).
Saya tahu saya salah , saya meminta maaf kepada istrinya dengan mengirim pesan ke laki-laki itu (entah disampaikan atau tidak) , karena saya tidak mengenal dan mengetahui kontak istrinya tersebut. Jarak rumah kami pun jauh.
Di sini suami saya belum mengetahui apa yg sudah saya lakukan. Dan hubungan saya dengan suami masih seperti biasa nya. Setelah kejadian itu saya menyesal , saya merasa takut , tidak tenang , saya telah mengzalimi banyak orang termasuk suami saya sendiri.
Saya bingung, apa yg harus saya lakukan ?
Bagaimana saya menghadapi perasaan bersalah saya kepada suami saya dan istri laki-laki itu ?
Apakah sudah cukup saya meminta maaf lewat pesan kepada istri laki-laki itu , karena masih ada yg menjanggal di hati saya. Tapi kami sudah tidak saling komunikasi.
Terima kasih..
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Ketika Anda telah berbuat salah, kemudian menyadari kesalahan tersebut dan berupaya memperbaiki diri, maka ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar kesalahan itu tidak menjadi beban berkepanjangan dalam hidup Anda. Di antaranya:
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ، فَيَقُولُ: يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ».
“Setiap umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa. Di antara bentuk terang-terangan itu adalah seseorang melakukan dosa di malam hari, lalu pada pagi harinya ia berkata: ‘Wahai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu,’ padahal Rabb-nya telah menutupinya, namun ia justru membuka sendiri apa yang telah Allah tutupi.” (HR. Sahih Bukhari)
Rasulullah ﷺ bersabda:
«اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ»
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Jami at-Tirmidzi)
Bisa jadi suami tidak memahami apa yang Anda harapkan, sehingga ia tidak memberikannya. Bisa jadi pula ia merasa sudah memberikan yang terbaik, sementara Anda tidak merasakannya demikian. Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah agar tumbuh saling memahami, saling menghargai, dan saling memperbaiki.
Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)