Berfikir Ingin Bercerai

Pernikahan & Keluarga, 10 Februari 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad.

Saya seorang ibu dan juga seorang istri. Pernikahan saya saat ini sudah menginjak 7 tahun. Selama hidup dengan suami, tentunya ada beberapa hal yang menjadi masalah dan membuat kami bertengkar. Namun, kami bertengkar dengan diam, saling mendiamkan. Tidak pernah kami bertengkar dengan berteriak, memaki, atau berkata kasar. Saat kami bertengkar, seringkali akhirnya saya yang mengalah dan minta maaf.

Selama ini, suami selalu menafkahi saya, dan memberi uang belanja dan makan. Tapi terkadang uang makan kurang karena memang harga bahan pangan naik, sedangkan anak anak butuh makan banyak karena masa pertumbuhan, akhirnya jika uang makan kurang, saya menombok uang makan dengan uang pribadi saya. Saya pernah bilang tentang ini ke suami, tapi suami bilang dicukup cukupkan saja uang makannya. Gaji suami bisa di bilang termasuk besar (belasan juta).

Suami memang bertanggung jawab mencari nafkah, dan tidak melakukan hal aneh yang bertentangan dengan syariat (berjudi, berselingkuh, zina,dll). Tapi saking fokusnya ia bekerja, ia jarang atau hampir  tidak pernah membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan hisa dihitung dengan jari berapa kali ia pernah membantu memandikan dan membersihkan anak anak. Awalnya saya merasa tidak keberatan dan memaklumi semua itu. Saya berusaha ikhlas melakukan pekerjaan rumah, mendidik anak, mengurus anak dan suami. Mengingat balasan istri yang taat pada suaminya selama tidak melanggar syariat adalah surga. Namun ustad.. akhir akhir ini mental saya terganggu, saya sering sedih,menangis,dan teriak marah kepada anak. Tapi saya tidak pernah berteriak marah kepada suami. Saya takut durhaka pada suami.

Hampir setiap bulan, pikiran "meminta cerai" selalu datang. Rasanya saya ingin lepas dari suami, ingin sendirian. Saya merasa tidak pantas dan merasa tidak becus menjadi istri karena suami sering marah dan ngambek kepada saya. Jikalau kami bercerai saya sudah tidak ingin menjalin hubungan pasutri. Itulah yang saya rasakan saat ini. Apakah saya salah berfikir seperti ini ? Tapi sampai detik ini saya tidak berani utarakan kata kata cerai karena saya ingat hadis tentang istri yang meminta cerai. Saya mencintai suami saya dan anak anak kami. Tapi adakalanya saat masalah terjadi.. saya merasa stress dan ingin kabur yang jauh. Saya tertekan melihat ekpresi wajah suami saat marah. Mohon solusinya ustad.

Wassalamualaikum warohmatullahi wa barokatuh.



-- Ummu (Jatim)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Islam membagi tugas pokok dan fungsi suami dan istri dengan jelas dan proporsional. Pembagian ini bertujuan untuk menciptakan keseimbangan hidup, sehingga terwujud keluarga yang harmonis dan penuh tanggung jawab. Istri membantu tugas pokok suami, dan suami membantu tugas pokok istri. Keduanya tidak untuk saling menggantikan secara total, tetapi saling melengkapi dan menguatkan.

Tugas pokok suami adalah mencari nafkah. Istri boleh membantu mencari nafkah, namun kewajiban utama tetap berada pada suami. Sebaliknya, tugas pokok istri adalah mengelola urusan rumah tangga dan anak-anak. Suami dapat membantu, tetapi tanggung jawab utama pengelolaan rumah tangga berada pada istri.

Dalam hal pembagian tanggung jawab ini, Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala negara) adalah pemimpin manusia secara umum dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan terhadap anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atasnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menanggapi masalah yang sedang Anda alami, berikut beberapa hal yang dapat menjadi bahan renungan:

  1. Mendiamkan masalah

Setiap keluarga pasti mengalami masalah, dari yang ringan hingga yang berat. Masalah harus diselesaikan atau dianggap selesai dan tidak lagi diungkit. Jika tidak, ia akan menjadi tumpukan yang suatu saat bisa meledak menjadi persoalan besar. Dampaknya, suami istri akan mengalami tekanan batin dan mudah tersulut emosi, bahkan oleh perkara kecil.

Masalah yang tidak diselesaikan ibarat bahan bakar yang tersimpan dan siap terbakar ketika ada pemicunya. Karena itu, selesaikan dengan komunikasi dari hati ke hati, dalam suasana tenang dan terbuka, bukan dalam kondisi saling menyalahkan atau mengintimidasi. Dengan berbicara, masing-masing akan memahami sudut pandang pasangannya.

Jika suatu masalah sulit menemukan titik temu, maka salah satu jalan adalah memaafkan dan mengikhlaskan. Tidak penting siapa yang lebih dahulu meminta maaf. Memberi maaf adalah cara mulia untuk menutup masalah. Terkadang suami merasa sulit meminta maaf karena faktor ego atau perasaan sebagai pemimpin. Namun sering kali, justru sikap lembut dan permintaan maaf dari istri dapat melunakkan hatinya dan membuatnya introspeksi diri.

  1. Uang makan dirasa kurang

Suami Anda merasa telah memberi uang belanja yang cukup, sementara menurut Anda masih kurang sehingga harus menambah dari uang pribadi. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya ajak suami berdiskusi secara terbuka. Bila perlu, buatlah catatan pengeluaran secara rinci. Perbedaan pendapat tidak cukup diselesaikan dengan perkiraan, tetapi perlu data nyata. Bisa jadi memang ada pengeluaran yang berlebihan, atau bisa jadi suami belum memahami kebutuhan riil rumah tangga.

  1. Suami tidak membantu pekerjaan rumah

Di sinilah pentingnya memahami tugas pokok dan fungsi masing-masing. Mencari nafkah adalah kewajiban utama suami, sedangkan mengurus rumah dan anak adalah tanggung jawab utama istri. Sebagian suami merasa pekerjaan rumah bukan kewajibannya sehingga ia tidak merasa bersalah ketika tidak membantu.

Namun, jika Anda ingin suami terlibat lebih aktif dalam urusan rumah tangga, sampaikan harapan itu secara jelas dan baik-baik. Jangan hanya dipendam dalam hati. Banyak konflik muncul karena harapan yang tidak pernah dikomunikasikan.

  1. Perasaan tertekan dan keinginan bercerai

Setiap keluarga pasti melalui fase sulit. Ada fase bulan madu yang penuh cinta, lalu fase saling mengenal karakter asli masing-masing. Pada fase ini sering muncul kekecewaan karena pasangan tidak sepenuhnya sesuai harapan sebelum menikah. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan bisa berkembang menjadi konflik yang lebih serius.

Berhati-hatilah pada fase ini. Jangan sampai terjebak dalam godaan untuk menjadikan perceraian sebagai jalan keluar tercepat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, lalu mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar fitnahnya. Datang salah seorang dan berkata, ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis berkata, ‘Engkau belum melakukan apa-apa.’ Lalu datang yang lain dan berkata, ‘Aku tidak meninggalkannya hingga aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya dan berkata, ‘Sungguh hebat engkau.’” (HR. Muslim)

Perceraian adalah perkara yang halal tetapi sangat dibenci oleh Allah. Maka jangan menjadikannya pilihan sebelum segala upaya perbaikan ditempuh.

  1. Solusi yang bisa ditempuh

Solusinya adalah bersabar dan terus mendewasakan diri. Tidak ada pasangan yang benar-benar ideal, sebagaimana kita pun tidak sempurna di mata pasangan. Benturan dalam rumah tangga bisa menjadi sarana belajar untuk bersikap lebih bijak.

Ibarat pengendara di jalan raya, semakin banyak pengalaman menghadapi berbagai kondisi, semakin terampil ia mengemudi dengan aman. Demikian pula rumah tangga: dengan kesabaran, komunikasi, dan keikhlasan, badai bisa dilalui dan hubungan menjadi lebih kuat.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc