Assalamualaikum, izin bertanya dan bercerita terlebih dahulu.
Saya sudah menikah sekitar 8 tahun. Suami saya sejak di PHK tahun 2025 hingga saat ini 2026, tidak bekerja. Sudah beberapa kali saya bantu untuk mencari dan mengirimkan lowongan kerja kepadanya tapi tidak ada action untuk mengirimkan lamaran. Saat membicarakan masalah ini, suami selalu pusing dan bad mood. Saya juga pernah membantu memodalkannya jualan keripik pisang tetapi tidak ada motivasi untuk mngembangkannya. qSaya juga sudah memodalkannya untuk membuka usaha kursus, tetapi tidak ada usaha untuk mengembangkannya.
Saat ini saya juga bekerja di luar dan punya usaha.
Suami saya punya kredit rumah, jadi kredit rumahnya saya yang membayarkannya serta semua kebutuhan rumah tangga, anak dan lain-lain hanya berharap kepada saya. Ketika saya tidak ada uang, suami tidak bisa membantu. Sehingga saya harus meminjam kepada orang tua, bahkan teman.
Pernah ia berkata, jika saya kerja, dia beralasan siapa yang akan jaga anak anak?? Padahal sudah saya modalkan buka usaha kursus di rumah, supaya bisa jaga anak anak jika memang itu alasannya. Pernah saya tanya, apa yang membuatnya tidak semangat?? ia juga tidak tahu.
Saya tidak paham dengan kondisi suami saat ini. Salahkah saya menuntut suami bekerja?? Atau biarkan saja dengan apa yang ia mau, dan saya fokus pada pemenuhan kebutuhan anak dan hari hari serta membayar semua keperluan. Dan apakah nafkah hanya berupa uang?. Mohon arahannya, semoga dibulan Ramadhan ini Allah memberikan jawaban. Amiin. Terima kasih.
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Menghadapi suami yang enggan bekerja dan mencari nafkah—terlebih setelah mengalami PHK—memang membutuhkan kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam bersikap. Jika salah dalam mengambil langkah, dikhawatirkan justru akan membuatnya semakin nyaman dalam kondisi tersebut, semakin bergantung pada penghasilan istri, dan perlahan kehilangan semangat, tanggung jawab, serta perannya sebagai kepala rumah tangga.
Perlu dipahami bahwa ada faktor psikologis yang bisa memengaruhi kondisi ini. Di antaranya, ia tidak lagi merasa sebagai tulang punggung keluarga, atau merasa bahwa kebutuhan rumah tangga sudah bisa dipenuhi oleh istrinya. Walaupun perasaan ini belum tentu benar secara keseluruhan, namun ketika ia merasa “tidak dibutuhkan” dalam hal nafkah, maka muncul pikiran: untuk apa bekerja, jika tanpa bekerja pun kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Dalam menghadapi kondisi seperti ini, sikap yang bijak dari seorang istri adalah tetap berusaha menumbuhkan kembali rasa tanggung jawab suami dengan cara yang lembut dan tidak menjatuhkan. Di antaranya dengan menunjukkan ketergantungan kepada suami dalam hal nafkah, misalnya dengan meminta kebutuhan kepadanya secara wajar, agar ia merasa perannya masih dibutuhkan dan diharapkan.
Di samping itu, penting juga memberikan pemahaman bahwa kebutuhan keluarga ke depan akan semakin meningkat. Apa yang saat ini masih bisa ditanggung oleh istri, belum tentu akan mampu terus dipenuhi di masa mendatang. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan dan peran aktif suami sejak sekarang.
Dalam hal tertentu, istri juga bisa mengurangi bentuk “kenyamanan” yang dirasakan suami, misalnya dengan tidak terus-menerus menanggung kewajiban besar seperti cicilan rumah. Jika selama ini istri membantu, maka bisa disampaikan secara baik bahwa bantuan tersebut bersifat sementara, dan ke depan suami diharapkan kembali mengambil peran utamanya.
Selain itu, jika saat ini istri tampak lebih kuat dan mandiri, maka tidak ada salahnya sesekali menampakkan sisi kelembutan dan kebutuhan kepada suami. Hal ini bisa menjadi pemicu bangkitnya kembali rasa kepemimpinan dan tanggung jawab dalam dirinya.
Yang tidak kalah penting adalah membangun komunikasi dan diskusi tentang rencana masa depan keluarga. Membicarakan target-target seperti pendidikan anak, tempat tinggal, kendaraan, dan kebutuhan lainnya, dapat menjadi motivasi bagi suami untuk kembali bersemangat dalam mencari pekerjaan dan memperbaiki keadaan.
Namun, semua itu perlu dibarengi dengan doa, kesabaran, serta pendekatan yang baik. Hindari menyudutkan, merendahkan, atau membandingkan suami dengan orang lain, karena hal tersebut justru bisa memperburuk keadaan. Sebaliknya, berikan dukungan, penghargaan atas usaha kecil yang ia lakukan, dan dorongan yang membangun.
Jika diperlukan, libatkan pihak ketiga yang bijak seperti keluarga atau tokoh yang dihormati untuk memberikan nasihat dengan cara yang baik.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah memberikan kemudahan dan memperbaiki keadaan keluarga Anda. Wallahu a’lam bish-shawab.(as)