Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. semoga Allah selalu merahmati ustadz dan tim ?
Mau bertanya ustadz.. saya sudah menikah dengan istri saya selama 6 tahun. Istri saya dimata saya adalah seorang perempuan yang lurus, penurut, santun, soft spoken, lembut, perhatian, hangat, selalu melayani saya dengan baik, pendengar yang baik, dia juga solehah dimata saya, dan tidak pernah tersentuh oleh laki-laki lain seumur hidupnya kecuali saya. walau ada beberapa hal kekurangan di dirinya karena dia manusia biasa, namun sudah saya terima segala kekurangannya, saya tenang berada di dekatnya, sehingga kalo lagi diluar rumah saya suka ingin cepat pulang.
Tapi, Tahun 2025 kemarin, saya mendapati istri saya selingkuh sampai berzina selama 8 bulan. Saya tau hal tersebut karena tidak sengaja ada notif whatsapp yang masuk ke hp istri saya, dan kemudian istri saya mengakui perbuatan nya tersebut. Saya sungguh kaget ustadz, dia adalah orang yang sangat benci perselingkuhan, dia juga satu-satunya orang yang saya percaya. Jadi ketika perselingkuhan itu terjadi, saya sangat terpukul.
Saya sempat mentalak nya dengan talak 1, namun saya merujuk nya kembali. Sejak ketahuan tersebut hingga saat ini, istri saya sudah bertaubat nasuha dan terlihat menyesali perbuatannya tersebut. Ia pun menunjukan perubahan sikap baik dengan sangat drastis, ia memperbanyak ibadah dengan cara tahajud, solat duha, dzikir pagi petang, belajar ilmu agama setiap hari, dia juga jadi bersikao lebih baik dalam hal mengurus rumah, mengurus saya, maupun mengurus anak kami. Namun, semenjak kejadian tersebut, saya merasa tidak nyaman setiap hari, saya juga merasa asing dengan istri saya, saya merasa dia bukan istri saya, tapi orang lain yang mirip dengan istri saya, saya masih sayang dan cinta terhadap istri saya, cuman ada rasa ilfeel, kecewa, males, tidak nyaman, dan tidak percaya lagi. Saya bingung harus melanjutkan atau menyudahi hubungan ini, sudah istikharah berkali kali, hampir setiap hari, namun jawabannya masih abu abu, orang tua saya mendukung kami tetap bersama, istri saya secara zahir menunjukan perubahan baik, hati saya pun masih ingin memperbaiki rumah tangga ini, namun disisi lain, saya sering mimpi buruk, kesehatan saya juga sering terganggu (psikosomatis), saya merasa tidak nyaman, kecewa, dll terhadap istri. Biasanya saya royal terhadap istri saya, sekarang mau ngasih sesuatu pun seperti belanjain istri saya, bersikap manis terhadap istri saya males. Saat ini rumah tangga kami Alhamdulillah masih terkendali, kami tidak pernah bertengkar secara meledak ledak, paling hanya ngibrol masalah ini, istri saya menjalankan kewajibannya, saya juga masih menafkahi lahir batin istri saya, menjaganya, menjalankan kewajiban saya sebagai suami.
Saya bingung ustadz harus bersikap bagaimana, mohon pencerahanmya ustadz ?
Sebelumnya saya sudah ke psikolog juga untuk memperbaiki mental saya dan ke psikolog pernikahan juga berrsama istri untuk memperbaiki rumah tangga, namun saya masih saja merasa dilema dan gakau. Terimakasih sebelumnya ustadz.
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Setelah berbagai usaha Anda lakukan untuk menghilangkan trauma akibat perselingkuhan istri—yang sebelumnya Anda anggap hampir mustahil terjadi, namun ternyata benar-benar terjadi—maka pada titik ini, langkah terbaik adalah mengembalikan seluruh persoalan tersebut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah ﷻ berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 155–157:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali.’”
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang memperoleh keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa setiap manusia pasti akan diuji. Tidak ada seorang pun yang luput dari ujian, termasuk ujian dalam rumah tangga. Namun, Allah juga memberikan solusi dalam menghadapinya, yaitu dengan bersabar.
Agar kita mampu bersabar, Allah mengajarkan satu prinsip penting: mengembalikan semua ujian itu kepada-Nya. Menyadari bahwa kita adalah milik Allah, dan semua yang terjadi pada kita berada dalam ketetapan-Nya, akan membantu hati lebih lapang dalam menerima kenyataan.
Ketika seseorang yakin bahwa tidak ada musibah yang terjadi kecuali atas izin Allah, maka ia akan lebih mudah menerima dan tidak larut dalam penolakan atau keputusasaan. Dari situlah kesabaran tumbuh, dan hati perlahan menjadi tenang.
Selain itu, penting untuk diyakini bahwa setiap ujian pasti mengandung hikmah, meskipun tidak selalu langsung terlihat. Setiap masalah juga memiliki jalan keluar, dan setiap kesulitan pasti akan berlalu seiring waktu. Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya terus-menerus dalam kesempitan tanpa adanya jalan kemudahan.
Orang-orang yang mampu bersabar dan bertahan dalam ujian, merekalah yang akan lulus dan mendapatkan derajat yang lebih tinggi di sisi Allah. Bahkan, bisa jadi ujian ini menjadi sebab diangkatnya derajat Anda, dihapuskan dosa-dosa, dan didekatkan kepada Allah.
Di samping itu, tetaplah berikhtiar secara nyata: memperbaiki komunikasi, menjaga diri dari prasangka berlebihan, serta jika diperlukan, mencari bantuan pihak ketiga yang bijak untuk membantu memulihkan kondisi rumah tangga. Namun, fondasi utamanya tetap pada kesabaran dan ketergantungan hati kepada Allah.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah memberikan ketenangan hati dan kekuatan dalam menghadapi ujian ini. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)