Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz..
Ustadz ijin bertanya, saya adalah seorang istri dan ibu.. pernikahan kami sudah berjalan 6 tahun lama nya, pernikahan kami selama ini bisa terbilang Alhamdulillah sakinah mawadah warahmah in sya Allah, saya dan suami punya satu pandangan yang sama, kalo ada perselisihan kami kembalikan ke qur'an dan sunnah, untuk perkara duniawi, saya serahkan semua keputusan kepada suami saya, karena saya tipikal wanita yang in sya Allah penurut. Suami saya juga Alhamdulillah termasuk suami yang bertanggung jawab, royal, dan selalu memenuhi kebutuhan istrinya. Namun tetap saja, tidak mungkin ada rumah tangga tanpa masalah, ada sikap sikap dari suami yang terkadang menyakiti saya, tapi sebenarnya sudah saya terima, begitupun sebaliknya. Namun ternyata diam diam hal itu menyimpan luka di dalam hati saya tanpa saya sadari (saya tau hal ini dari psikolog karena saya konsul ke psikolog). Sampai akhirnya saya terjerumus ke dalam perselingkuhan, perselingkuhan fisik yang cukup lama dan sampe berzina dengan suami orang (laki2 tersebut sudah mentalak istrinya namun belum mengurus ke pengadilan).
Saat ini suami saya, istri laki-laki tersebut, orang tua saya, mertua saya, ipar ipar saya, kakak adik saya, semua sudah megetahui perselingkuhan ini. Saya sudah ngobrol via telfon (karena beda kota) dengan istri pria tersebut, Alhamdulillah istrinya sudah memaafkan saya. Suami saya juga (katanya) sudah memaafkan saya, keluarga saya maupun keluarga suami juga in sya Allah sudah memaafkan saya. Bahkan orang tua dan mertua saya mendukung kami untuk rujuk, dan mertua saya melarang suami menceraikan saya karena katanya mereka mengenal pribadi saya sejak dulu saya orang nya seperti apa, dan kasian pada anak kami. Suami saya sempat mentalak saya namun sudah merujuk saya kembali seminggu setelah ucap talak.
Saat ini 5 bulan pasca kejadian itu, kondisinya suami saya merasa berat menjalankan pernikahan ini, menurutnya rasanya tidak sama lagi katanya, ia murung dan terlihat sedih setiap hari, yang biasa dia bersikap manis pada saya, nempel ke saya terus, sekarang secara emosional dan gairah jadi males katanya sama saya, suami saya juga membatalkan rencana untuk punya anak kedua, menurutnya kayanya anak satu aja cukup karena dia masih trauma. Saya kasian liat suami saya, saya sudah bertaubat nasuha, menyesali sekali perbuatan saya, saya juga berusaha memperbaiki diri saya, menambah ilmu, konsul ke psikolog buat pengembangan diri, dll. Namun tetap saja saya merasa saya jahat ketika saya melihat kondisi suami saya yang murung terus itu. Suami saya sedang bingung apakah haris cerai atau bertahan, karena katanya ternyata bertahan sangat berat buat dia, tapi kalo cerai, dia juga katanya sebenernya udah sangat nyaman dan cocok sama saya katanya, cuman selalu terbayang kesalahan masa lalu saya itu dan itu menyiksa pikiran, batin, dan mental dia. Saya sudah bilang ke suami kalo memang berat, saya ikhlas kalo harus dicerai, karena saya tau kesalahan saya sangat fatal. Namun saya selalu berdoa pada Allah agar rumah tangga ini masih bisa diselamatkan. Kami juga sudah berkali kali melakukan solat istikharah, saya pribadi ada keyakinan kalo bertahan lebih baik, namun suami saya katanya tidak merasa mendapatkan perunjuk, hatinya masih bimbang antara menyudahi pernikahan ini atau menlanjutkan pernikahan ini .
Sebagai istri, apa yang harus saya lakukan ustadz? Dan adakah nasihat untuk suami saya? Karena kebetulan suami saya juga suka baca platfrom ini.
Syukron ustadz ?
pertanyaan diatas masih ada hubungan dengan pertanyaan tiket
| 24440 | ,dan sudah kami jawab pertanyaan tiket 24440 |