Pertanyaan:
Kakak pertama saya ingin menggunakan data pribadi saya untuk keperluannya. Namun, saya menolak karena merasa tidak aman dan tidak nyaman terkait privasi saya. Saya tahu kakak saya sedang mengalami kesulitan karena tertipu investasi bodong, tetapi saya tetap tidak bisa memberikan data pribadi saya untuk keperluannya.
Penolakan saya membuat kakak marah, bahkan sampai menyeret masalah lain. Beliau mengatakan bahwa keluarga seharusnya saling membantu. Pernah juga terjadi hal kecil, seperti ketika saya tidak ingin membuka stok tisu baru dan memilih memberikan tisu yang sebelumnya saya ambil dari resepsionis (yang masih bagus dan bersih). Hal tersebut membuat beliau marah dan mengatakan bahwa saya pelit, bahkan mendoakan agar anaknya tidak menjadi seperti saya.
Saya juga dituduh tidak memiliki empati dan tidak peduli terhadap kesulitannya, padahal saya memilih diam karena tahu jika saya menjawab, situasinya bisa semakin memanas. Kejadian seperti ini sering terjadi. Awalnya saya mencoba memaklumi, tetapi lama-kelamaan saya merasa lelah dan capek secara emosional.
Sebagai keluarga, saya bingung harus bersikap seperti apa. Di satu sisi saya ingin menjaga jarak demi ketenangan diri saya, tetapi di sisi lain saya bertanya-tanya, apakah dalam Islam diperbolehkan untuk menjauh dari keluarga yang dirasa toxic? karena saya juga khawatir disini saya melakukan kesalahan juga, baik dalam bertutur kata maupun bersikap. Mohon arahannya, terima kasih ustadz/ustadzah
--
Liu (Jakarta)
Jawaban:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Berikut adalah pandangan dan arahan terkait situasi anda, ditinjau dari sisi keamanan data pribadi dan prinsip Islam :
1). Menjaga Data Pribadi adalah Amanah (Hukumnya Wajib)
Dalam pandangan Islam, data pribadi (seperti NIK, password, data perbankan) adalah bagian dari rahasia dan amanah yang wajib dijaga.
- Memberikan data pribadi kepada orang lain, meskipun saudara, yang berpotensi disalahgunakan untuk pinjaman online atau investasi bodong adalah tindakan berbahaya dan bisa masuk kategori merampas hak orang lain (ghasab) jika data tersebut disalahgunakan.
- Anda berhak menolak, karena Islam melarang membahayakan diri sendiri dan orang lain (Laa Dharar Wa Laa Dhiraran). Penolakan anda untuk melindungi keamanan diri (dan potensi data anda disalahgunakan) adalah benar dan sah secara syariah.
2). Membantu Keluarga Tidak Harus dengan Cara Merusak Diri
Keluarga memang seharusnya saling membantu. Namun, membantu ada batasnya.
- Anda bisa membantu kakak dalam hal emosional, mendoakan, atau memberikan saran/nasihat untuk mencari solusi halal.
- Membantu dalam bentuk memberikan data yang mempertaruhkan keamanan pribadi anda bukanlah bentuk pertolongan yang diwajibkan. Membantu dengan cara menzalimi diri sendiri tidak diperbolehkan.
3). Apakah Boleh Menjauh dari Keluarga Toxic?
Dalam Islam, silaturahmi wajib disambung, namun berinteraksi terus-menerus dengan orang yang terus-menerus mendzalimi (secara verbal, mental, atau fisik) tidak diwajibkan.
- Jika berinteraksi membuat anda stres, tidak tenang, atau memaksa anda melakukan hal yang merugikan, anda diperbolehkan menjaga jarak (meminimalisir interaksi) untuk menjaga agama dan kesehatan mental anda.
- Menjauh bukan berarti memutus tali silaturahmi. anda tetap bisa mendoakan, bertanya kabar, atau membantu secukupnya tanpa harus bertemu langsung jika situasinya tidak memungkinkan.
- Bentuk silaturahmi terendah adalah menahan diri dari menyakiti dan menahan diri agar tidak disakiti (kafful adza).
4). Sikap yang Sebaiknya Diambil
- Tegas namun Santun: Katakan "tidak" untuk data pribadi dengan sopan namun tegas. "Kak, maaf saya sayang kakak, tapi saya tidak bisa memberikan data pribadi saya karena itu amanah yang harus saya jaga."
- Diam adalah Emas (Sabar): Keputusan anda untuk diam saat kakak marah adalah tepat untuk menghindari pertengkaran yang lebih besar (mencegah kerusakan/dharar).
- Jika pesan atau panggilan kakak terus-menerus menimbulkan kecemasan (misal: menuduh, mendoakan buruk), tidak apa-apa untuk membatasi respon.
- Mendoakan kebaikan untuk kakak adalah bantuan terbaik yang tidak merugikan diri anda.
- Untuk masalah tisu atau hal kecil lainnya, anda tidak perlu merasa bersalah. Itu adalah rumah tangga atau barang milik anda, anda berhak mengelolanya.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemdahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA