Istinja

Thaharah, 4 Maret 2026

Pertanyaan:

‏اَلسَلامُ عَلَيْكُم وَرَحْمَةُ اَللهِ وَبَرَكاتُهُ‎

Saya mau bertanya, setelah saya membaca dari sebuah website bahwa air istinja air basuhan pertamanya itu najis saya menjadi sangat lama ketika beristinja terutama pada saat (maaf) buang air besar. Wc saya itu jongkok , jadi ketika beristinja air cipratan mengenai tangan yang memegang gayung sehingga saya berusaha membersihkan tangan dan gayung yang saya gunakan lalu setelah itu saya membersihkan semua lantai kamar mandi dan telapak kaki saya karena sering kali air siraman kotorannya jatuh ke meluber ke lantai kamar mandi sehingga saya membutuhkan waktu yang sangat lama di kamar mandi. Apakah yang saya lakukan ini benar, namun saya merasa berat karena membutuhkan banyak air dan waktu yang lama.



-- Chandra (Bogor)

Jawaban:

Walaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh.
 
Apa yang anda rasakan—waktu lama dan penggunaan air berlebihan—adalah tanda-tanda was-was (bisikan setan) dalam masalah kesucian. Islam adalah agama yang memudahkan. Berikut adalah penjelasan berdasarkan ilmu fikih untuk mengatasi was-was anda:
 
1). Hukum Air Istinja (Basuhan Pertama)
  • Memang benar (dalam madzhab Syafii) air istinja yang digunakan untuk membersihkan kotoran najis hukumnya adalah najis (jika volumenya sedikit, di bawah 2 qullah/kurang lebih 216 liter).
  • Namun, cipratan air basuhan tersebut yang mengenai tangan atau kaki saat anda sedang menyiram/cebok seringkali dianggap sebagai air yang "didatangkan" ke tempat najis, bukan air yang diam di tempat najis.
  • Jika air itu memantul saat anda menyiram/cebok (air didatangkan), percikannya tidak najis.
  • Ulama menegasnkan untuk tidak terlalu memikirkan percikan air bekas istinja, kecuali anda melihat/yakin ada zat najis (warna, bau, atau rasa kotoran) yang terlihat jelas di tangan.
2). Apa yang anda lakukan (membersihkan seluruh kamar mandi dan kaki) tidak benar dan berlebihan, serta tidak diwajibkan dalam syariat.
  • Tindakan tersebut justru membuat anda stres dan memperkuat was-was.
  • Jika kotoran jatuh dan meluber ke lantai, cukup siram bagian yang terkena najis saja sampai hilang bau, warna, dan rasanya, tidak perlu menyiram seluruh lantai kamar mandi.
3). Solusi Mengatasi Was-was Istinja
  • Jika selesai cebok anda ragu, "Apakah tangan saya kena cipratan?", abaikan. Asalnya suci.
  • Ini solusi terbaik. Gunakan tisu atau batu untuk menghilangkan najis kasar (kotoran padat) terlebih dahulu. Setelah najis padat hilang, baru bersuci dengan air. Cara ini membuat air basuhan lebih sedikit terkena najis, sehingga cipratannya tidak najis.
  • Saat istinja, cukup bersihkan tempat kotoran keluar saja, tidak perlu menggosok seluruh area paha atau pinggul.
  • Disunnahkan memercikkan air ke celana dalam/celana luar setelah beristinja. Tujuannya: Jika setan membisikkan "celanamu basah dan najis", anda bisa menjawab, "Itu hanya percikan air suci yang saya sengaja".
Berhenti mencuci seluruh lantai kamar mandi. Cukup bersihkan tempat keluarnya kotoran, siram dengan air sampai bersih, lalu keluar. Jika ada cipratan, anggaplah suci dan jangan diperiksa.
 
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemdahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
 
Wassalaamum 'alaikum wrwb.


-- Agung Cahyadi, MA