Perihal Najis Anjing

Thaharah, 18 Maret 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustadz, Mohon nasihat dan pencerahan ustad karna saya sedang overthinking atau was2. Saya memiliki tetangga, beliau seorang muslim, tapi bekerja di klinik hewan yg menangani kucing dan (maaf) anjing. Beliau bilang persentase client yg datang kira2 70% adalah kucing, sisanya anjing. Tugas beliau yaitu vaksin, merawat, memandikan kucing/anjing dll.

Beliau memang tidak pelihara anjing di rumahnya tapi beliau interaksi dengan anjing di tempat kerjanya. Saya pernah lihat foto beliau sedang suntik vaksin anjing tanpa sarung tangan yg mana dia memegangi kepala anjing tsb (hanya saya tidak tahu apakah itu basah atau kering). Karena tetangga sebelah rumah, kami sesekali bertemu di depan rumah/berpapasan dan setiap bertemu kami tentu bersalaman. Mohon pencerahannya ustad:

1. Apakah najis bila saya bersalaman dengan beliau? karena saya tau sehari hari nya dia bersentuhan dengan anjing. Yg saya tau kalo tangan sama sama kering tidak ada najis berpindah.

2. Kalo kami bersalaman lalu tangan kami salah satunya basah, tapi saya tidak tau apakah bebasahan di tangan dia bekas anjing atau bukan, bagaimana menyikapinya? Haruskah disucikan 7x salah satunya dengan tanah?

3. Apakah boleh jika kami terima makanan yg beliau masak? Dan apakah piring / alat masak beliau itu suci?

Karna ada kalanya diadakan acara makan bersama di perumahan kami. Atau jika beliau mengirim masakannya ke rumah kami. Terimakasih ustad.



-- Luthfi (Tangerang )

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
 
Was-was adalah hal yang manusiawi ketika kita mengetahui ada potensi najis di sekitar kita. Namun, dalam fiqih Islam, ada kaidah "Al-Yaqinu La Yazulu Bis-Syak" (Keyakinan tidak hilang oleh keraguan).
 
Berikut adalah pencerahan berdasarkan fiqih Syafi'i (yang umum digunakan di Indonesia) untuk menjawab pertanyaan anda:
 
1). Jika tetangga anda bersalaman dengan anda dalam keadaan tangan sama-sama kering, maka tidak ada najis yang berpindah.
  • Anjing memang najis mughallazhah (najis berat), namun najis hanya berpindah jika ada kebasahan (air liur, keringat, air kencing, atau basah lainnya) dari anjing ke tangan tetangga, dan basah tersebut berpindah ke tangan anda.
  • Jika beliau memegang anjing, lalu tangannya mengering, lalu berpapasan dan bersalaman dengan anda, tangan anda tetap suci.
2). Jika tangan salah satu dari anda basah, lalu bersalaman :
  • Jika tidak yakin apakah basahnya terkena najis anjing atau tidak, maka tetap dihukumi suci. Kita tidak perlu repot-repot menyucikan 7 kali jika hanya keraguan (dugaan saja).
  • Jika yakin (melihat dengan mata kepala sendiri) tangan tetangga basah terkena air liur/air kencing anjing, lalu bersalaman dengan Anda, barulah najis tersebut berpindah.
  • Cara Menyucikan: Cukup cuci tangan Anda sebanyak 7 kali, salah satunya dicampur dengan tanah/debu. Tidak perlu mengulang salaman.
3). Menerima Makanan/Masakan Tetangga
Boleh dan Halal menerima makanan dari beliau.
  • Anjing najis, namun tidak membuat orangnya menjadi "najis berjalan" atau haram menerima makanannya.
  • Selama makanan tersebut halal (bukan daging anjing) dan dimasak dengan peralatan yang bersih (tidak dimasak menggunakan air liur anjing), maka hukum makanannya adalah suci.
  • Diperbolehkan untuk bersikap husnudzon (berprasangka baik) bahwa peralatan makan beliau telah dicuci bersih dan aman dari najis. Menerima pemberian tetangga justru dianjurkan untuk mempererat silaturahmi.

Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya. Wallahu a'lam bishshawaab

Wassalaamu 'alaikum wrwb.



-- Agung Cahyadi, MA