Assalamualaikum ustad
Saya sebagai suami yg tempramen dan suka marah marah dengan istri saya, jd di saat saya marah istri saya menangis dan terakhir istri saya meminta cerai, mungkin karna saya tidak bisa bicara dengan pelam pelan ustad . Semua memang saya akui kesalahan saya. apakah harus saya turuti permintaannya ustad ? Mohon pencerahannya ustad untuk kebaikan kami berdua
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Permintaan cerai yang diajukan istri kepada Anda merupakan sinyal adanya sikap atau karakter dalam diri Anda yang perlu diperbaiki, yaitu kebiasaan mudah marah kepada istri. Jika Anda mampu mengubah kemarahan tersebut menjadi sikap yang lebih lembut dan ramah, maka besar kemungkinan permintaan cerai itu tidak akan muncul. Karena itu, berusahalah untuk memperbaiki sikap tersebut.
Di antara cara untuk mengendalikan dan mengubah sifat mudah marah adalah sebagai berikut:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنْ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ
“Sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air. Maka jika salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia berwudhu.”
(HR. Abu Daud, no. 4784; dinilai hasan)
3. Mengubah posisi tubuh
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ، وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ
“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika marahnya hilang, (itu sudah cukup). Jika belum, maka berbaringlah.”
(HR. Abu Daud, no. 4782; shahih)
كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ، وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ“
“Pada suatu hari aku duduk bersama-sama Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam sedang dua orang lelaki sedang saling mengeluarkan kata-kata kotor satu dan lainnya. Salah seorang daripadanya telah merah mukanya dan tegang pula urat lehernya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu satu perkataan sekiranya dibaca tentu hilang rasa marahnya jika sekiranya ia mau membaca, ‘A’udzubillahi minas-syaitani’ (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan), niscaya hilang kemarahan yang dialaminya.” (HR Bukhari)
5. Menyadari hakikat kekuatan sejati
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari, no. 6114)
Dengan berusaha menerapkan hal-hal di atas secara konsisten, insyaAllah sifat mudah marah akan berkurang dan hubungan rumah tangga menjadi lebih harmonis.
Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)