Pertanyaan:
Assalamualaikum, Afwan Ustadz saya punya permasalahan ust/Ustadzah. Istri saya Memiliki dendam dengan Keluarga Saya dan sudah sangat lama ust, awalnya menurut saya hal sepele masalah perbedaan Pendapat. Cuman akhir2 ini Istri saya sering emosi dan itu di limpahkan ke saya ketidak sukaan nya malah di Bilang ke saya sambil emosi, seolah olah saya membela keluarga saya.,, dan Jujur besok lebaran istri saya gak mau ke rumah Saya. Bagaimana seharusnya saya bersikap ust yang saya tau kini keluarga Istri malah seolah olah mendukung Istri saya, atas sikap nya itu.
Saat ini saya merasa terpojok, di suatu sisi saya sebagai anak Laki laki, di suatu sisi ini istri. Dan saya juga rasa gak mungkin saya membenci kedua2nya saat ini saya bingung ust, sudah coba berbicara hasilnya nihil setiap ribut dg istri pasti kesalahan keluarga saya di Ungkit
--
Aris (Bengkulu)
Jawaban:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Permasalahan yang anda hadapi memang sangat berat, berada di antara bakti kepada orang tua dan menjaga perasaan istri. Dalam Islam, posisi anda adalah pemimpin rumah tangga yang wajib bersikap adil. Berikut adalah panduan sikap dan langkah-langkah yang dapat anda ambil, disarikan dari prinsip-prinsip syariat:
1). Anda tidak boleh berpihak secara membabi buta. Jika keluarga anda salah, akui salahnya. Jika istri salah, tegur dengan lembut. Hindari sikap suporter yang langsung membela salah satu pihak.
- Tujuan anda adalah menyelesaikan konflik, bukan mencari siapa yang benar.
- Sadari bahwa istri anda sedang dikuasai emosi, dan keluarga anda memiliki kekurangannya. Berdoalah agar hati keduanya dilembutkan.
2). Menghadapi Istri yang Dendam & Emosi
- Saat istri marah, dengarkan tanpa memotong. Istri seringkali hanya butuh didengar dan divalidasi perasaannya, bukan dicarikan solusi saat itu juga.
- Jika istri berbuat salah pada keluarga anda, tegurlah secara pribadi (berdua saja), bukan di depan orang tua/saudara anda, agar ia tidak merasa terpojok.
- Sampaikan bahwa menyimpan dendam itu melelahkan dan dosa. Katakan, "Aku mengerti kamu sakit hati, tapi bisakah kita melepaskannya demi ketenangan rumah tangga kita?"
3). Menghadapi Lebaran Tidak Mau ke Rumah Orang Tua
- Lebaran adalah momen silaturahmi. Jika istri menolak keras, jangan dipaksa. Coba tawarkan sistem bergantian (tahun ini ke orang tua, tahun depan ke mertua).
- Jika perlu, gunakan teknik "kebohongan baik" untuk menenangkan situasi. Misalnya, mengatakan ke istri bahwa orang tua minta maaf, atau sebaliknya, untuk mencairkan dendam.
- Jika istri setuju ke rumah orang tua, namun tidak mau menginap, penuhilah keinginannya. Silaturahmi sebentar lebih baik daripada tidak sama sekali.
- Ingatkan istri secara lembut bahwa ketaatan istri kepada suami (dalam hal kebaikan) adalah jalan menuju surga.
4). Mengatasi Keluarga Istri yang Mendukung
- Keluarga istri mungkin tidak tahu detail masalah. Jangan biarkan campur tangan mereka merusak hubungan anda.
- Jika keluarga istri mengintervensi, sampaikan dengan tenang, "Ini urusan rumah tangga kami, mohon doakan agar kami bisa menyelesaikannya dengan baik."
5). Langkah Hukum/Agama
- Jika diskusi berdua nihil, gunakan metode Al-Qur'an (An-Nisa: 35), yaitu mengutus juru damai (hakam) dari keluarga suami dan istri yang bijak untuk menengahi.
- Ini adalah senjata terkuat. Berdoa dengan memohon kepada Allah agar dihilangkan penyakit dendam dari hati istri dan diberikan kesabaran bagi anda.
Tindakan A]anda saat ini adalah bersabar namun tegas. Lebaran besok, jika istri tetap menolak, anda tetap wajib silaturahmi ke orang tua anda (sebagai anak laki-laki), sementara istri diberi pengertian. Jangan sampai anda memutus silaturahmi karena ketakutan pada emosi istri.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA