Menantu, Mertua Dan Ipar

Pernikahan & Keluarga, 26 Maret 2026

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.. pak ustadz, bagaimana sikap kita terhadap mertua dan ipar perempuan yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga kami dan maunya mengatur segalanya.  Bahkan sampai hal sepele seperti cara menyuapi anak, menyekolahkan anak terlalu dini, cara berpakaian, bahkan aturan di rumah mengenai pembantu saya saja turut dikomentari. Tapi bukan menasihati ya. Padahal ipar sudah pisah rumah. jika saya menjelaskan alasan saya ternyata itu hal yg tidak mereka sukai, komentarnya menyakitkan.

Suami saya sekarang ini juga tidak akur dengan ipar karena ada kata-katanya ada yang menyakiti suami. Dan ipar memutus tali silaturahmi dengan suami dan saya. Saya pun akhirnya ikut dimusuh dan dicueki ipar. Sekarang ibu mertua yang serumah dgn saya pun ikut marah. Karena ada ucapan saya mengenai ipar, dimana saya mengeluh mengenai ipar yang memutus silaturahmi, ternyta menyinggung bliau (ibu mertua).. Saya sudah meminta maaf, tapi beliau masih marah. 

Posisi saya serba salah. Satu rumah, tapi diam-diaman. Saya menyapa, dan lain-lain, tapi sikapnya dingin. Kami ingin pisah rumah, tapi anehnya tidak diizinkan. Sejauh apa hubungan menantu - mertua, ipar  yang seharusnyn dan sesungguhnya? Apa yang diizinkan dan yang tidak? 



-- Fay (Jakarta)

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.

Menyikapi ipar yang ikut campur dalam urusan rumah tangga, serta ibu mertua yang juga terlibat bahkan sampai membenci anak dan menantunya karena terpengaruh sikap tersebut, maka ada beberapa saran yang dapat kami sampaikan, antara lain:

  1. Anda dan suami harus bersatu serta memiliki sikap yang sama dalam menghadapi mertua dan saudara. Persatuan dan kesamaan sikap ini akan menjadi kekuatan dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Dengan begitu, Anda berdua bisa saling menguatkan dan merasa lebih ringan karena memiliki sandaran satu sama lain.
  2. Tidak semua ucapan orang tentang kita perlu ditanggapi. Pikiran kita bukan tempat sampah yang harus menampung semua perkataan buruk orang lain. Dengarkan jika memang membawa manfaat. Namun jika hanya menimbulkan kemarahan dan sikap negatif, tidak perlu ditanggapi. Biarkan masuk telinga dan keluar kembali, tanpa perlu menetap di pikiran dan hati.
  3. Mendapatkan keridhaan semua orang adalah hal yang tidak mungkin. Pasti ada saja yang tidak menyukai kita. Karena itu, fokuslah pada memperbaiki diri sesuai nilai yang kita yakini. Kita adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. Selama tidak melakukan kemaksiatan, penilaian negatif orang lain tidak perlu terlalu dipikirkan.
  4. Tetaplah bersikap ramah, baik, dan berbakti kepada orang tua. Jangan membalas sikap diam atau keburukan dengan hal yang sama. Jika kesalahan dibalas dengan kesalahan, maka keadaan akan semakin memburuk. Sebaliknya, jika sikap kurang baik dibalas dengan kelembutan dan kesabaran, insyaAllah akan datang waktunya perubahan ke arah yang lebih baik.

Demikian yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc