Pertanyaan:
Assalamualaikum Ustadz saya ingin bertanya
Saya memiliki seorang kenalan non-Muslim yang memelihara anjing. Terkadang, saat bersentuhan dengan saya, kondisi tangan beliau dalam keadaan basah. Selain itu, beliau juga pernah menyampaikan bahwa dirinya mengonsumsi daging babi dan daging anjing.Beliau juga sesekali menggunakan fasilitas di rumah kami, seperti keran air dan bak cuci tangan. Bahkan, keluarga saya terkadang menyuguhkan kopi dan makanan untuk beliau.Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan dan rasa was-was dalam diri saya: apakah sentuhan beliau atau penggunaan fasilitas tersebut dapat menyebabkan najis? Mengingat, setelah digunakan, keluarga saya hanya membersihkannya seperti biasa, menggunakan tempat dan spons yang sama hingga sekarang.
--
Raihan (Banyuwangi )
Jawaban:
Wa'alaikumussalaam warahmatullahi wa barakaatuh.
Berikut adalah jawaban berdasarkan fiqih mazhab Syafi'i yang umum dianut di Indonesia :
1). Hukum Sentuhan Tangan Basah
Dalam mazhab Syafi'i, anjing dan babi termasuk najis mughalladhah (najis berat). Najis ini berpindah jika ada unsur basah pada salah satu pihak.
- Jika tangan anda basah dan tangan kenalan tersebut basah karena jilatan/air liur anjing, maka najis berpindah ke tangan anda.
- Jika tangannya basah hanya karena air biasa (bukan basah liur anjing), maka tangan beliau tidak najis, dan sentuhannya tidak membuat Anda najis.
- Penting: Selama anda tidak melihat atau yakin secara langsung tangan beliau baru saja dijilat anjing dan dalam keadaan basah saat bersalaman, maka tangan beliau dihukumi suci (asluhu al-taharah).
2). Hukum Penggunaan Fasilitas Rumah
- Jika beliau menggunakan keran dengan tangan yang kering, atau tangan basah yang sudah kering (bukan bekas liur langsung), maka keran tidak najis.
- Jika yakin spons/keran terkena najis berat (bekas liur/kotoran anjing/babi), maka harus disucikan dengan cara najis mughallazhah.
3). Cara Mensucikan (Jika Terkena Najis Berat)
Jika Saudara yakin ada barang yang terkena najis dari anjing/babi tersebut, caranya adalah:
- Hilangkan zat najisnya (bau, rasa, warna) terlebih dahulu dengan air.
- Basuh 7 kali dengan air, di mana salah satunya dicampur dengan tanah/debu yang suci.
4). Sikap Menghadapi Was-was
Islam tidak menghendaki kesulitan. Jika keraguan muncul secara terus menerus, hal tersebut adalah was-was dari setan.
Jika sering timbul rasa was-was dalam masalah najis anjing, kita diperbolehkan mengikuti mazhab lain (Maliki) yang menganggap anjing tidak najis selama masih hidup, atau setidaknya tidak menyamakan najis anjing dengan najis berat yang menyulitkan.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya
Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamju 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA