Pertanyaan:
Assalamualaikum ustadz, Saya sudah menikah selama hampir 10 tahun, dari tahun pertama menikah saya selalu membuat masalah dalam artian hutang sana sini tanpa sepengetahuan suami, sampai akhirnya suami tahu. Bertengkar, memaafkan seperi itu saja rulesnya.. tahun2 berikutnya juga seperti itu yang mana saya ketahuan berhutang dan akhirnya bertengkar, bertengkar pun selalu mengungkit2 kesalahan saya yg terdahulu.. saya menyadari itu, saya salah, saya minta maaf, tapi tanpa dia sadari kenapa saya bisa seperti itu yg dia tidak pernah mau tau dan pahami, dari segi nafkah yg kurang, tempramental, kata2 kasar yang tanpa dia sadari pasti ada kata2 kasar tiap hri yg selalu menyakiti hati saya.. orang tua saya pun tau, jd setiap ada masalah keuangan kdng mreka bantu kesulitan saya diam2 karena klo terang2an takutnya sikap temprament dia keluar.. sampai saat ini pun masih seperti ini saya mengulangi kesalahan saya lagi.. saya saat ini mempunyai anak 2 yg baru memasuki sekolah dasar.. kdang terlintas sudah ingin mengkahiri saja.. tapi saya masih memikirkan anak2.. dia selalu bilang kesaya tolong tobat ubah lah perilaku saya yg suka berhutang sana sini, tetapi klo saya balikan dia sruh berubah agar tidak tempramental dan keras selalu mengungkit2 kesalahan saya.. jd klo di bicaran baik2 pun tdk ada titik temu sampe saat ini.. mohon pencerahannya ustadz apaaa yang harus saya lakukan.. saat ini saya sudah pasrah..
--
Tree (Depok)
Jawaban:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Dari apa yang Anda sampaikan pada pertanyaan di atas, dapat kami berikan tanggapan sebagai berikut:
- Ketahuilah bahwa jika terjadi perselisihan antara dua orang, maka pada umumnya kedua belah pihak memiliki kesalahan, hanya berbeda dalam kadar besar dan kecilnya. Tidak ada pihak yang sepenuhnya salah, dan tidak ada pula yang sepenuhnya benar. Demikian juga dalam masalah antara Anda dan suami, masing-masing memiliki andil dalam terjadinya persoalan. Hal ini perlu disadari bersama sebagai langkah awal perbaikan.
- Anda berulang kali berhutang tanpa sepengetahuan suami, dan hal ini wajar jika menimbulkan kemarahan dari pihak suami. Di sisi lain, Anda merasa terpaksa berutang karena nafkah yang dirasa tidak mencukupi, sementara suami tidak memahami kondisi tersebut. Di sinilah pentingnya komunikasi yang baik dan terbuka, agar masing-masing pihak saling memahami alasan dan sudut pandang, sehingga dapat ditemukan kesepakatan yang lebih baik.
- Cobalah melakukan introspeksi dalam pengelolaan keuangan. Tinjau kembali apakah yang Anda anggap sebagai kebutuhan benar-benar merupakan kebutuhan mendesak, ataukah sekadar keinginan yang masih bisa ditahan. Jika hal tersebut lebih condong kepada keinginan, maka penting untuk belajar mengendalikan diri. Sadari pula konsekuensi dari kebiasaan berutang, yang dapat memicu perselisihan dalam rumah tangga bahkan melibatkan pihak keluarga.
- Adapun keinginan untuk mengakhiri pernikahan sebaiknya dipertimbangkan dengan sangat matang. Perpisahan tidak akan menyelesaikan masalah jika akar persoalan belum dipahami dengan benar. Jika sumber masalah berasal dari kebiasaan yang ada pada diri sendiri, maka perceraian bukanlah solusi. Permasalahan akan tetap ada selama penyebab utamanya belum diperbaiki. Sebaliknya, perpisahan bisa menjadi jalan keluar jika memang masalah utamanya berasal dari pasangan dan tidak dapat diperbaiki.
Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)
--
Amin Syukroni, Lc