Konsultasi Rumah Tangga


Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad , saya ingin konsultasi perihal rumah tangga saya

Saya sering kali debat dengan istri masalah komunikasi , silent treatment , kurang perhatian ke rumah dan lebih mementingkan pekerjaan. Jika suatu saat saya ada masalah dengan istri saya cenderung diam dan keluar , dan jika saya ada hal pekerjaan diluar dan kemungkinan besar pulang telat saya sering kali lupa kasih kabar ke istri untuk ijin karena istri sudah berulang kali mengingatkan perihal itu tetapi saya sering lupa. Istri saya sering sekali mengeluh perilhal itu tapi saya tidak kunjung berubah , bagaimana solusinya ustad ? 

Saya sangat butuh penjelasan seperti itu kenapa saya kok sering sekali lupa perihal seperti itu sampai kita sering debat panjang dan tidak kunjung selesai perihal itu. Istri saya juga sempat ingin bunuh diri perihal masalah yang tidak kunjung terselesaikan dan berlarut-larut dan masalahnya hanya itu itu saja. 

Terimakasih sebelumnya ustad , wassalamualaikum



-- Fajar Al Faruq (Magetan)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Ada masalah yang bisa kita ubah karena memang berada dalam kemampuan kita untuk mengubahnya. Namun, ada pula masalah yang harus kita maklumi karena memang tidak dapat diubah.

Perlu dipahami bahwa perilaku, sikap, tabiat, dan sifat seseorang ada yang masih dapat diperbaiki dan diubah, tetapi ada juga yang sangat sulit diubah karena telah menjadi bagian dari karakter atau bawaan dirinya. Misalnya, ada orang yang memiliki sifat pelupa. Ketika diminta untuk berubah dan lebih berhati-hati agar tidak lupa, mungkin ia akan menjawab, "Ya," dan berusaha melakukannya. Akan tetapi, dalam praktiknya ia tetap sering lupa. Bukan karena tidak mau berusaha, melainkan karena sifat tersebut sudah sangat melekat pada dirinya.

Dalam menghadapi kondisi seperti ini, orang-orang di sekitarnya perlu belajar memaklumi dan menerima kenyataan tersebut. Memaksakan seseorang untuk berubah secara total sering kali hanya akan menimbulkan kekecewaan. Yang lebih bijak adalah menerima keadaan itu sambil berusaha mengantisipasi dampak yang mungkin timbul darinya.

Sebagai pasangan suami istri, hendaknya selalu berupaya untuk mengenali satu sama lain. Proses ini tidak cukup dilakukan di awal pernikahan saja, tetapi harus terus berlangsung sepanjang kehidupan rumah tangga, hingga keduanya seakan menjadi satu tubuh yang saling memahami. Hal ini penting karena suami dan istri berasal dari latar belakang keluarga, tradisi, kebiasaan, pendidikan, serta nilai-nilai yang berbeda. Jika perbedaan-perbedaan tersebut tidak dikenali dan dipahami dengan baik, maka dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik, dan berbagai masalah dalam keluarga.

Sebagai pasangan yang masih berada pada masa awal pernikahan, ada empat hal yang perlu diupayakan, yaitu ta'aruf, tafahum, ta'awun, dan takaful.

  1. Ta'aruf (Saling Mengenal)

Ta'aruf adalah upaya untuk saling mengenal pasangan. Suami berusaha mengenal dan memahami istrinya, demikian pula istri berusaha mengenal dan memahami suaminya. Hal-hal yang perlu dikenali antara lain:

  • Aspek mental, seperti watak, emosi, kesukaan, dan karakter kepribadian.
  • Aspek fisik, seperti kondisi kesehatan, kebiasaan hidup, dan kemampuan fisik.
  • Aspek intelektual, seperti cara berpikir, kemampuan memahami sesuatu, dan pola pengambilan keputusan.

Proses saling mengenal ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Banyak kesalahpahaman yang terjadi pada awal pernikahan karena masing-masing belum memahami pasangannya secara utuh. Semakin banyak yang diketahui tentang pasangan, semakin mudah pula untuk memahami dan menoleransi perbedaan yang ada.

  1. Tafahum (Saling Memahami)

Tafahum adalah upaya untuk saling memahami. Ketika muncul perbedaan pendapat atau kebiasaan, hendaknya dicari titik temu yang dapat diterima oleh kedua belah pihak. Hindarilah memaksakan kehendak kepada pasangan, karena sikap tersebut sering menjadi awal munculnya perselisihan.

  1. Ta'awun (Saling Membantu)

Ta'awun adalah upaya untuk saling membantu dan meringankan beban pasangan. Sikap peduli, empati, dan ringan tangan akan tumbuh apabila telah terjalin pemahaman yang baik. Dengan demikian, tidak ada pihak yang merasa hanya menjadi pelayan atau objek dalam rumah tangga. Sebagaimana pepatah mengatakan, "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."

  1. Takaful (Saling Menanggung)

Takaful adalah kesediaan untuk saling menanggung beban yang tidak mampu dipikul sendiri oleh pasangan. Masing-masing tidak menuntut pasangannya melebihi batas kemampuannya. Bahkan, apabila diperlukan, seseorang rela menanggung beban tertentu sendirian demi menjaga keutuhan dan keharmonisan rumah tangga.

Semoga dengan komunikasi yang baik, Anda dan istri dapat semakin saling mengenal, saling memahami, saling membantu, dan saling menguatkan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc