Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ustadz.Saya izin bertanya perihal penerapan ghadhul bashar (menundukkan pandangan) dan adab pergaulan di tempat kerja:Bagaimana batasan ghadhul bashar yang ideal di dunia kerja?Saya sedang berusaha menjaga hati dan menjalankan syariat dengan menundukkan pandangan saat ada karyawan wanita baru di kantor. Namun, sikap saling menunduk dan memalingkan muka ini justru membuat suasana kerja menjadi sangat kaku dan canggung. Bagaimana cara menundukkan pandangan yang tetap menjaga wibawa seorang Muslim tanpa berkesan memusuhi, sombong, atau kaku di depan rekan kerja?Apakah boleh menyapa dan tersenyum sekilas demi sopan santun?Jika saya masuk kantor, bolehkah saya memandang sekilas (tanpa menatap dalam-dalam atau berlama-lama) untuk memberikan senyuman ramah dan menyapa mereka (misalnya berkata: "Pagi Om, pagi Bell" di depan karyawan lain) demi menjaga hubungan profesional dan sopan santun? Apakah hal ini diperbolehkan dalam syariat dan tidak merusak pahala menjaga pandangan?Mohon bimbingan dan nasihatnya, Ustadz, agar saya bisa bekerja dengan tenang, tetap ramah, namun hati dan pandangan saya tetap terjaga sesuai aturan Allah SWT.Jazakumullah Khairan Katsiran.
--
Henko (Muara Teweh )
Jawaban:
Wa'alaikumusalaam warahmatullahi wa barakaatuh.
Menjaga pandangan (ghadhul bashar) di lingkungan kerja menuntut keseimbangan antara menjaga hati dan tetap berlaku profesional.
Berikut adalah panduan dan adab interaksi yang ideal bagi seorang Muslim di tempat kerja :
1). Batasan Menundukkan Pandangan yang Ideal
- Pandangan yang ditundukkan bukan berarti menatap lantai secara ekstrem, melainkan menahan mata dari menatap aurat atau memandang lawan jenis dengan syahwat.
- Memandang seperlunya saat berkoordinasi pekerjaan atau rapat diperbolehkan. Selama pandangan dilakukan sekilas tanpa tatapan mendalam atau berlama-lama, hal tersebut tidak merusak pahala menjaga pandangan.
2). Adab Menyapa dan Tersenyum
- Menyapa dengan sopan ("Pagi Om", dsb.) demi menjaga hubungan kerja yang baik dibolehkan dalam syariat. Pastikan untuk tidak berinteraksi terlalu santai (bercanda berlebihan) atau berduaan.
- Memberikan senyuman ramah sekilas dalam konteks profesionalitas dan sopan santun adalah hal yang baik. Namun, hindari senyuman yang bersifat menggoda atau genit. Bagi Muslimah, para ulama menekankan kehati-hatian agar senyum tidak menimbulkan fitnah.
3). Menghindari Kesan Kaku atau Sombong
- Anda tetap bisa terlihat ramah dengan bahasa tubuh yang baik, misalnya menganggukkan kepala sedikit, gestur tubuh yang menghargai saat berbicara, atau intonasi suara yang hangat tanpa harus menatap wajah secara intens.
- Orang lain umumnya akan memahami sikap anda jika anda fokus menyelesaikan tugas. Tunjukkan dedikasi dan etos kerja yang baik, sehingga batasan anda dipahami sebagai prinsip ibadah, bukan kesombongan.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya. Wallahu a'lam bishshawaab
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA