Assalamualaikum ustadz izin bertanya, saya dulu tidak tau kalau memakai software bajakan itu haram, saya pakai untuk tugas sekolah, tidak menghasilkan uang dari sana, dan saya tidak beli karna memang mahal sekali (seingat saya hampir seratus juta/tahun, sedangkan sekolah saya gratis, bahkan uang saku pun hanya sepuluh ribu/hari), setelahnya selesai sekolah saya hapus semua, apakah saya harus mengeluarkan hampir 300 juta kerugian itu sedang saya tidak punya penghasilan sama sekali?
Saya juga pernah pakai beberapa akun agar mendapatkan free trial (saya lupa sudah dapat berapa kali keuntungan premium), menonton film di situs bajakan, atau sekadar menempel gambar dari google untuk tugas tanpa mencantumkan copyright semasa sekolah, saya yakin totalnya berjuta juta, apakah semua itu harus saya tebus?
Sulit sekali tetap percaya bahwa islam adalah agama yang mudah di saat seperti ini, saya merasa sangat berat, saya tidak punya apa apa dan harus menanggung biaya yang tidak masuk akal sampai saya sakit jiwa raga bolak balik rs karna memikirkan kesalahan saya, apakah ini hukuman atau apa saya tidak tau namanya, yang jelas saya merasa tersiksa.
Kadang saya membandingkan diri dengan orang lain, mengapa mereka melakukan hal yang sama dan bisa bersikap biasa saja dan mendapatkan kehidupan yang baik, sedangkan saya di sini tercabik cabik, tidak paham lagi apa itu harapan untuk masa depan, bernapas dengan lega pun rasanya sulit, saya selalu menunggu jawaban dari sini, terima kasih sudah banyak membantu, saya harap yang ini juga dijawab.
Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Menanggapi pertanyaan yang Anda sampaikan, kami dapat memberikan penjelasan sebagai berikut:
1. Dari apa yang Anda ceritakan, tampak bahwa Anda sangat menyesali perbuatan yang telah lalu. Penyesalan seperti ini merupakan bagian dari taubat. Namun, jangan sampai penyesalan tersebut berubah menjadi bisikan yang membuat Anda berputus asa dari rahmat Allah Swt. atau membebani diri dengan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh syariat.
2. Orang yang melakukan kesalahan karena kebodohan atau ketidaktahuan terhadap hukum syariat, kemudian setelah mengetahui hukumnya ia menyesali perbuatannya dan bertaubat kepada Allah Swt., maka ia memiliki harapan besar untuk mendapatkan ampunan dari Allah. Di antara dalil yang menunjukkan keluasan rahmat Allah adalah firman-Nya:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
"Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah." (QS. Al-Baqarah: 286)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ.
(رواه ابن ماجه والبيهقي وغيرهما)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah memaafkan umatku dari kesalahan yang dilakukan tanpa sengaja, karena lupa, dan karena dipaksa." (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)
3.Syariat tidak membebani seseorang dengan kewajiban yang berada di luar kemampuannya. Allah Swt. berfirman:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
Karena itu, Anda tidak perlu menghitung-hitung seolah-olah memiliki utang hingga ratusan juta rupiah yang harus ditebus. Cara berpikir seperti ini justru dapat menjadi pintu masuk waswas yang sangat memberatkan dan bukan merupakan tuntunan syariat.
4. Yang perlu Anda lakukan sekarang adalah:
5. Dari cerita yang Anda sampaikan, tampak bahwa beban terbesar yang Anda rasakan bukan semata-mata karena kesalahan di masa lalu, melainkan rasa bersalah yang terus-menerus menghantui hingga mengganggu kesehatan dan membuat Anda kehilangan harapan. Keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan. Seorang mukmin diperintahkan untuk memadukan rasa takut kepada Allah dengan harapan akan rahmat-Nya. Jangan sampai rasa takut berubah menjadi keputusasaan.
6. Jangan membandingkan diri Anda dengan orang lain. Bisa jadi mereka kurang peka terhadap dosa, sementara Anda memiliki hati yang lebih peka. Kepekaan seperti itu merupakan nikmat apabila mendorong seseorang untuk bertaubat dan memperbaiki diri. Namun, apabila berubah menjadi waswas yang membuat seseorang merasa tidak mungkin diampuni, terus-menerus menghitung dosa secara berlebihan, dan kehilangan semangat hidup, maka keadaan tersebut bukanlah sikap yang diajarkan oleh agama.
Yakinlah bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa hamba-Nya. Selama seseorang benar-benar bertaubat, Allah Maha Menerima Taubat lagi Maha Pengampun. Allah Swt. berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu serta berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak akan mendapat pertolongan.'" (QS. Az-Zumar: 53–54)
Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah Swt. menerima taubat Anda, menghilangkan kegelisahan yang Anda rasakan, serta memberikan ketenangan dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.
Wallahu a'lam bish-shawab.
(as)