Suami Anak Terakhir


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum, Saya belum lama menikah, baru 2.5 tahun, tapi saya sudah berkali kali ingin pisah.

Suami saya baik, pengertian, dan selalu memenuhi tanggung jawabnya. Tetapi hingga saat ini satu yang sulit sekali saya terima, yaitu suami saya benar benar tidak boleh pisah dengan orang tuanya, pun suami saya juga berprinsip demikian. Saya sebenarnya tidak apa apa jika seumur hidup harus tinggal di rumah mertua, tetapi ternyata semua tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Mertua saya, terutama ibunya suami adalah orang yang ceplas ceplos, dan senang mengomentari hal hal kecil yang saya lakukan. Pernah suatu saat ibu mertua saya berkata hal yang tidak pantas didengar tentang keluarga saya, sejak saat itu saya hilang respect. Tetapi saya berusaha memaafkan, walaupun masih tetap teringat sampai sekarang.

Saya juga merasa tidak bisa bebas menjalani tugas sebagai istri jika satu rumah dengan mertua, se-simple membuat masakan kesukaan suami, dan hal hal simple lainnya yang sebenarnya sepele tetapi membebani hati jika dibiarkan bertahun tahun. Saya merasa sungkan dan tidak enak hati melakukan aktivitas di luar kamar.

Saya sudah bilang berkali kali kepada suami bahwa saya tidak betah tinggal di rumahnya, saya tertekan, dan stres, saya ingin pindah, yang dekat dengan mertua tidak apa apa, asalkan saya punya tempat sendiri. Tetapi respon suami tidak sependapat dengan saya, dengan dalih dia kasian dengan orang tuanya jika ditinggal, walaupun berdekatan (Untuk informasi, mertua saya dua duanya sehat dan tertata finansialnya, namun memang suami saya anak terakhir). 

Saya hampir setiap hari menangis, menahan semuanya. Saya berkali kali menyesali keputusan saya untuk menikah dan ingin sekali menyudahi semuanya, daripada saya mengorbankan kewarasan saya, tetapi saya juga sayang sekali dengan suami dan tidak ingin menghalangi suami saya untuk berbakti kepada orang tuanya.  

Bagaimana seharusnya suami  menyikapi hal ini? Dan bagaimana dengan saya? Apakah dalam islam seorang istri yang ada diposisi saya memang harus menanggung hal seperti ini dan tidak boleh meminta tinggal terpisah? Bagaimana jika suami saya atau mertua saya tetap tidak mau tinggal terpisah? 

Mohon arahannya ustadz/ustadzah, saya sudah tidak tau lagi harus bagaimana, maaf jika terlalu panjang, terima kasih?? 

Wassalamu'alaikum



-- Dini (Kediri)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Dari apa yang Anda sampaikan, kami memahami bahwa tinggal serumah dengan mertua merupakan kondisi yang tidak selalu mudah. Namun, perlu disadari bahwa sering kali penderitaan seseorang bukan semata-mata disebabkan oleh keadaan di luar dirinya, melainkan oleh cara ia menyikapi keadaan tersebut. Banyak orang merasa menderita karena memaksakan keinginan dan ekspektasinya agar segala sesuatu berjalan sesuai dengan harapannya. Padahal, ketika hidup bersama orang lain, setiap orang pasti dituntut untuk saling menyesuaikan diri, saling mengalah, dan saling memahami.

Tinggal serumah dengan mertua merupakan hal yang cukup banyak terjadi di masyarakat. Terlebih apabila suami adalah anak terakhir atau anak yang selama ini bertanggung jawab merawat orang tuanya. Secara moral dan agama, seorang anak memang memiliki kewajiban untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, terlebih ketika mereka telah memasuki usia lanjut.

Karena itu, Anda tidak sendirian dalam menghadapi kondisi seperti ini. Banyak menantu yang tinggal bersama mertua dan tetap dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik. Bukan berarti mereka tidak memiliki masalah, tetapi mereka memilih menyikapinya dengan lapang dada, mengambil sisi-sisi positifnya, serta tidak terlalu membesar-besarkan hal-hal yang kurang menyenangkan.

Perlu dipahami pula bahwa tinggal di rumah sendiri pun tidak berarti bebas dari masalah. Setiap pilihan hidup memiliki tantangannya masing-masing. Masalah hanya akan berganti bentuk. Oleh sebab itu, tujuan hidup bukanlah menghindari semua masalah, melainkan belajar menghadapinya dengan sikap yang bijaksana dan dewasa.

Beberapa hal berikut semoga dapat membantu Anda menjalani kehidupan bersama mertua dengan lebih nyaman.

  1. Sadari bahwa hidup bersama berarti harus berbagi kepentingan dan mengurangi ego.

Ketika tinggal serumah dengan mertua, Anda tidak mungkin dapat mewujudkan seluruh keinginan pribadi. Demikian pula mertua Anda, mereka pun tidak mungkin selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Semua pihak harus belajar saling mengalah dan saling menghormati.

Keadaan seperti ini sebenarnya juga akan Anda alami apabila tinggal bersama orang tua kandung sendiri. Hanya saja, Anda lebih mudah bersikap santai kepada orang tua sendiri karena telah hidup bersama mereka selama bertahun-tahun sejak kecil. Adapun dengan mertua, hubungan itu masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal, membangun kedekatan, dan menumbuhkan rasa saling percaya. Oleh karena itu, bersabarlah. Seiring berjalannya waktu, insya Allah hubungan tersebut akan semakin hangat apabila kedua belah pihak sama-sama berusaha menjaga adab dan saling menghormati.

  1. Fokuslah pada sisi-sisi positif dari tinggal bersama mertua.

Apa yang menjadi fokus pikiran kita akan sangat memengaruhi perasaan kita. Jika kita terus mencari kekurangan, maka kekurangan itulah yang akan selalu terlihat. Sebaliknya, apabila kita berusaha melihat kebaikan yang ada, hati akan menjadi lebih tenang dan lebih mudah bersyukur.

Cobalah renungkan, apakah hal-hal yang selama ini mengganggu Anda benar-benar merupakan masalah besar, atau sebenarnya hanya persoalan kecil yang menjadi besar karena terlalu sering dipikirkan.

Misalnya, Anda merasa tidak bebas memasak makanan kesukaan suami. Tanyakan kepada diri sendiri, apakah hal tersebut benar-benar menjadi masalah besar bagi suami sehingga mengganggu keharmonisan rumah tangga? Ataukah itu hanyalah keinginan pribadi yang sebenarnya tidak harus selalu terwujud?

Dengan cara berpikir seperti ini, kita akan lebih mudah membedakan mana masalah yang benar-benar penting dan mana yang hanya persoalan kecil yang tidak perlu menguras pikiran.

  1. Jangan mudah berpikir untuk berpisah atau bercerai.

Apabila suami Anda adalah orang yang baik, bertanggung jawab, tetap memberikan nafkah, tidak melakukan perselingkuhan, tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, serta tidak melanggar syariat, maka jangan jadikan persoalan tinggal bersama mertua sebagai alasan untuk menghancurkan rumah tangga.

Jangan membuka celah bagi setan untuk menanamkan kebencian dan mendorong terjadinya perceraian. Sebab, memisahkan suami dan istri merupakan salah satu keberhasilan terbesar yang dibanggakan oleh Iblis.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، ثُمَّ يَجِيْءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ.

Artinya:

"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian mengutus bala tentaranya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Salah seorang datang lalu berkata, 'Aku telah melakukan ini dan itu.' Iblis menjawab, 'Engkau belum melakukan apa-apa.' Kemudian datang yang lain dan berkata, 'Aku tidak meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkan antara dia dengan istrinya.' Maka Iblis mendekatkannya dan berkata, 'Engkaulah yang paling hebat.'" (HR. Muslim).

Oleh karena itu, selama persoalan yang dihadapi masih dapat diselesaikan dengan komunikasi, kesabaran, dan saling memahami, maka upayakanlah untuk mempertahankan rumah tangga. Tidak ada keluarga yang sempurna, tetapi banyak keluarga yang tetap bahagia karena anggotanya memilih untuk saling menerima, memaafkan, dan bekerja sama menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah memberikan kelapangan hati, kemudahan dalam menjalani kehidupan rumah tangga, serta menjadikan keluarga Anda sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Wallahu a'lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc