Konsultasi Pernikahan

Pernikahan & Keluarga, 15 Juli 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb

Saya istri yang melakukan dosa besar terhadap suami saya. Selingkuh selama 2 tahun. Dan saya ingin taubatan nasuha. Suami telah memaafkan saya. Hanya saja saya selalu merasa bersalah dengan hal yang terjadi,sehingga sering trauma dan tidak dapat tidur. Mohon arahan dan bimbingan agar saya melakukan taubatan nasuha dan terlepas dari trauma tersebut.



-- Tasya (Jakarta)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Jika Anda sebagai seorang istri telah melakukan perselingkuhan selama dua tahun dan kini ingin bertaubat dengan taubatan nasuha, maka semoga keinginan tersebut menjadi awal kebaikan. Pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan dan matahari belum terbit dari arah barat. Agar taubat benar-benar diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, lakukanlah beberapa langkah berikut.

1. Menjalankan taubat nasuha dengan sungguh-sungguh

a. Menyesali seluruh dosa yang telah dilakukan

Penyesalan harus lahir dari kesadaran bahwa kemaksiatan hanya mendatangkan kerugian, baik bagi diri sendiri, pasangan, maupun keluarga. Renungkanlah berbagai dampak buruk yang ditimbulkan oleh dosa tersebut, seperti hilangnya ketenangan hati, rusaknya kepercayaan suami, retaknya keharmonisan rumah tangga, serta berbagai musibah yang dapat muncul sebagai akibat dari kemaksiatan.

Semakin seseorang menyadari besarnya dampak dosa, semakin kuat pula penyesalannya, dan semakin besar dorongan untuk memperbaiki diri.

b. Meninggalkan seluruh bentuk kemaksiatan dan menjauhi semua jalan yang mengarah kepadanya

Tinggalkan dosa sebagaimana seseorang membuang pakaian yang kotor dan tidak layak dikenakan lagi. Putuskan seluruh hubungan yang berkaitan dengan perselingkuhan tersebut. Hapus seluruh bentuk komunikasi dengan laki-laki tersebut, blokir nomor telepon dan media sosialnya apabila diperlukan, jauhi tempat-tempat yang dapat mempertemukan kembali dengannya, serta hindari segala situasi yang berpotensi membangkitkan kembali dosa masa lalu.

Apabila lingkungan pergaulan menjadi salah satu penyebab terjadinya perselingkuhan, maka carilah lingkungan yang lebih baik dan lebih mendukung ketaatan kepada Allah.

c. Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi

Taubat tidak cukup hanya dengan penyesalan, tetapi harus disertai tekad yang kuat untuk tidak kembali melakukan dosa tersebut.

Tekad ini hendaknya dibuktikan dengan memperbanyak amal saleh. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk."
(QS. Hud: 114).

Karena itu, perbanyaklah shalat, membaca Al-Qur'an, berzikir, bersedekah, menghadiri majelis ilmu, berbakti kepada orang tua, serta berbagai amal kebajikan lainnya sebagai bukti kesungguhan dalam bertaubat.

d. Meminta maaf kepada suami dan mengembalikan kepercayaan yang telah dikhianati

Apabila suami telah mengetahui perselingkuhan tersebut dan telah memaafkan Anda, maka bersyukurlah kepada Allah atas karunia yang sangat besar itu.

Namun demikian, hendaknya Anda tetap menunjukkan penyesalan yang tulus dan meminta maaf kepada suami atas kepercayaan yang telah Anda khianati. Permintaan maaf menjadi bukti bahwa Anda benar-benar menyadari kesalahan yang telah dilakukan dan ingin memperbaiki diri.

Setelah itu, bangunlah kembali kepercayaan suami melalui perubahan sikap yang nyata. Jadilah istri yang jujur, terbuka, dan dapat dipercaya. Sebaliknya, suami pun hendaknya tidak terus-menerus mengungkit kesalahan yang telah berlalu apabila ia benar-benar telah memaafkannya, karena membuka kembali luka lama hanya akan menghambat proses pemulihan rumah tangga.

2. Membuka lembaran kehidupan yang baru bersama

Setelah bertaubat, suami dan istri hendaknya memulai kehidupan baru yang dipenuhi dengan ketaatan kepada Allah.

Perbanyaklah ibadah bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan, memperbaiki komunikasi, memperkuat hubungan emosional, memilih lingkungan pergaulan yang saleh, serta mengisi rumah tangga dengan kegiatan yang mendekatkan diri kepada Allah.

Bahkan apabila lingkungan lama sangat kuat mendorong untuk kembali kepada kemaksiatan, tidak ada salahnya mempertimbangkan pindah ke lingkungan yang lebih baik demi menjaga keimanan dan keharmonisan keluarga.

3. Menumbuhkan rasa takut dan harap kepada Allah

Seorang mukmin hendaknya hidup di antara dua perasaan, yaitu khauf (takut kepada azab Allah) dan raja' (berharap kepada rahmat Allah).

Rasa takut akan menjaga seseorang agar tidak meremehkan dosa dan tidak mengulanginya kembali. Sementara rasa berharap akan membuatnya optimis bahwa Allah menerima taubat orang-orang yang benar-benar kembali kepada-Nya.

Dengan keseimbangan antara rasa takut dan harap tersebut, seseorang akan lebih mudah istiqamah dalam menjaga taubatnya.

4. Jangan berputus asa dari rahmat Allah

Jangan biarkan kesalahan masa lalu terus menghantui kehidupan Anda hingga membuat putus asa atau membenci diri sendiri. Seorang mukmin memang harus menyesali dosanya, tetapi ia juga harus segera bangkit memperbaiki diri dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

Terlalu larut dalam rasa bersalah bukanlah sikap yang dianjurkan, karena hal itu dapat berubah menjadi keputusasaan, padahal Allah melarang hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ۝ وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu serta berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak akan mendapat pertolongan lagi.'"
(QS. Az-Zumar: 53–54).

Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima taubat kita semua, menghapus dosa-dosa masa lalu, memperbaiki keadaan hati dan keluarga kita, serta mengaruniakan kepada setiap rumah tangga kehidupan yang penuh dengan sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Wallahu a'lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc