Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin bertanya. Ustadz, saya telah melakukan kesalahan yang sangat besar, saya telah berselingkuh padahal saya sudah bersuami dan mempunyai anak. Saat ini, saya sangat menyesali perbuatan saya. Terkadang saya mempertanyakan, kenapa bukan saya saja yang diselingkuhi? Kenapa harus saya yang selingkuh? Ga enak banget hidup dalam penyesalan dan ketakutan setiap hari, rasanya seperti hampir gila. Saya takut akan azab Allah, saya menyesal setiap melihat suami saya jadi murung, saya menyesal lihat anak saya, keluarga saya yang harmonis ini, saya hancurkan ustadz, saya dan suami sudah tidak bisa romantis lagi sejak suami saya mengetahui saya selingkuh hingga berzina. Saat ini suami saya sedang bingung akan mempertahankan rumah tangga atau menceraikan saya. Saya takut kehilangan anak dan suami saya. Saya sangat percaya kalau takdir apapun yang Allah berikan pada kita adalah yang terbaik "boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menginginkan sesuatu padahal itu buruk bagimu" saya tidak meragukan ayat itu sedikitpun, tapi sebagai manusia biasa yang penuh dosa ini, rasanya sangat berat menjalani kehidupan saya sekarang, setiap hari hidup dalam penyesalan dan ketakutan. Saya sudah bertaubat, mendekatkan diri pada Allah, melakukan hal yang positif, menghindari segala yang Allah larang, tapi rasanya tetap berat ustadz, terkadang saya berharap Allah jemput saya saja, agar saya tidak menjadi beban untuk suami dan anak saya. Karna suami saya berat menceraikan saya karna takut melukai anak saya, takut membuat anak saya sedih jika kami berpisah, namun bertahan pun suami saya sangat tersiksa katanya. Rumah tangga kami masih normal tapi sudah sangat berbeda, dia sudah berbeda memandang saya, apa yang saya lakukan banyak dicurigai, apa yang saya lakukan salah terus kesan nya, saya paham semua itu karna rasa sakitnya, karna dia trauma. Makanya saya kasian liat suami saya. Makanya saya suka berharap Allah segera jemput saya, karna sepertinya lebih mudah bagi suami dan anak saya kalo harus berpisah karna ajal, daripada perceraian. Tapi saya sebenernya ga siap, saya takut akan dosa dosa saya, saya ga siap di akherat harus berhadapan dengan orang orang yang saya sakiti. Mohon pencerahan nya ustadz, saya harus bagaimana menjalani hidup yang sudah saya hancurkan sendiri ini? Saya harus bagaimana jika (naudzubillahimindalik) nantinya Allah mentakdirkan saya harus diceraikan suami saya dan akses bertemu anak jadi terbatas? Saya harus bagaimana, jika bertahan tapi suami saya tersiksa hidup bersama saya dan dia terpaksa bertahan hanya karna ingin anak saya baik baik saja?
Semoga kisah saya bisa jadi pelajaran juga bagi pembaca lainnya, jangan sampai satu keputusan bodoh mengakibatkan penyesalan seumur hidup. Jazakallah khayran ustadz
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Jika Anda pernah melakukan perselingkuhan hingga terjerumus dalam perbuatan zina, kemudian suami mengetahui perbuatan tersebut dan setelah itu sikapnya berubah terhadap Anda, tentu keadaan ini sangat berat untuk dihadapi. Apalagi jika Anda telah benar-benar bertaubat, menyesali perbuatan tersebut, berusaha memperbaiki diri, tetapi suami belum dapat kembali bersikap seperti dahulu dan Anda terus dihantui kekhawatiran akan diceraikan.
Dalam keadaan seperti ini, sebagai seorang muslimah, ada dua sikap penting yang perlu dijaga, yaitu bersyukur dan bersabar. Kedua sikap tersebut merupakan jalan bagi seorang mukmin untuk tetap memperoleh kebaikan dalam berbagai keadaan, baik ketika mendapatkan sesuatu yang menyenangkan maupun ketika menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Pertama, Anda perlu bersyukur kepada Allah karena masih diberikan kesempatan untuk menyadari kesalahan, bertaubat, dan memperbaiki diri.
Bayangkan jika perbuatan tersebut tidak pernah diketahui dan Anda tidak pernah tersadar, mungkin Anda akan semakin jauh terjerumus dalam kemaksiatan dan semakin sulit untuk kembali kepada Allah. Karena itu, meskipun pengetahuan suami terhadap masa lalu tersebut saat ini menimbulkan persoalan dalam rumah tangga, jadikanlah peristiwa itu sebagai momentum untuk benar-benar berubah dan memperbaiki kehidupan.
Bersyukurlah pula karena sampai saat ini suami masih memberikan kesempatan kepada Anda untuk mempertahankan rumah tangga. Jangan menjadikan sikap suami yang masih kecewa, marah, atau menjaga jarak sebagai alasan untuk kembali putus asa. Luka akibat pengkhianatan tidak selalu dapat sembuh dalam waktu singkat. Kepercayaan yang telah rusak membutuhkan waktu, kesabaran, dan bukti perubahan yang konsisten untuk dapat pulih kembali.
Karena itu, fokuslah pada apa yang dapat Anda lakukan: bertaubat dengan sungguh-sungguh, memperbaiki akhlak, menjaga kesetiaan, memperbaiki hubungan dengan suami, dan menjadi istri yang lebih baik daripada sebelumnya.
Tidak perlu memaksa suami untuk segera melupakan masa lalu. Berikan kepadanya waktu untuk memulihkan kepercayaan. Tunjukkan perubahan bukan hanya melalui perkataan, tetapi melalui perilaku yang konsisten dari hari ke hari. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)
Bersyukurlah karena Allah masih memberi Anda kesempatan untuk bertaubat sebelum ajal datang. Bersyukurlah karena pintu taubat masih terbuka. Bersyukurlah karena Anda masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, suami, dan keluarga.
Jangan terus-menerus tenggelam dalam penyesalan terhadap masa lalu. Penyesalan memang diperlukan sebagai bagian dari taubat, tetapi setelah bertaubat, seseorang harus melangkah maju dengan memperbaiki diri.
Taubat yang benar harus diwujudkan dengan meninggalkan dosa, menyesalinya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, serta memperbaiki berbagai kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut sesuai kemampuan.
Selain bersyukur, Anda harus bersabar menghadapi konsekuensi dari kesalahan masa lalu.
Anda mungkin merasakan tekanan batin, rasa bersalah, ketakutan kehilangan suami, dan ketidakpastian mengenai masa depan rumah tangga. Semua itu memang berat. Namun, jangan sampai kesalahan masa lalu membuat Anda kehilangan harapan kepada rahmat Allah.
Jangan menganggap bahwa hidup Anda sudah berakhir. Jangan pula merasa bahwa Anda tidak layak mendapatkan kebahagiaan lagi. Jika Anda telah benar-benar bertaubat, maka teruslah memperbaiki diri dan berharap kepada ampunan Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar: 53)
Karena itu, jangan mengatakan, “Saya lebih baik mati daripada menjalani hidup seperti ini.” Jika perasaan seperti itu muncul, jangan hadapi seorang diri. Segera mencari bantuan dari orang yang dapat dipercaya dan orang yang mampu mendampingi Anda secara serius. Kehidupan Anda tetap berharga, dan kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka.
Anda juga perlu bersabar menghadapi ketidakpastian: apakah suami pada akhirnya akan mempertahankan rumah tangga atau memilih untuk berpisah. Hal tersebut merupakan sesuatu yang berada di luar kendali Anda. Yang berada dalam kendali Anda adalah taubat, perubahan diri, kesetiaan, kesungguhan memperbaiki rumah tangga, dan doa kepada Allah.
Serahkan hasil akhirnya kepada Allah.
Kesedihan, kegelisahan, dan penderitaan seorang mukmin yang dihadapi dengan kesabaran dapat menjadi sebab terhapusnya dosa. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, maupun kegelisahan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus sebagian dosa-dosanya karena hal tersebut.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Namun, jangan memahami hadis ini sebagai alasan untuk mempertahankan penderitaan tanpa berusaha memperbaiki keadaan. Kesabaran harus disertai dengan ikhtiar. Jika hubungan suami istri mengalami luka yang dalam, Anda dapat mengajak suami berbicara dengan tenang atau meminta bantuan orang yang dipercaya dan memiliki kemampuan memberikan nasihat rumah tangga.
Yang terpenting sekarang bukan terus-menerus menghukum diri karena dosa masa lalu, tetapi membuktikan bahwa taubat Anda benar-benar melahirkan perubahan.
Jangan menuntut suami untuk segera kembali seperti dahulu. Kepercayaan yang hilang membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali. Jadilah orang yang konsisten dalam kebaikan. Jaga komunikasi, kesetiaan, ibadah, akhlak, dan tanggung jawab sebagai istri.
Jika suatu saat suami kembali mempercayai dan menerima Anda sepenuhnya, bersyukurlah. Jika prosesnya membutuhkan waktu yang panjang, bersabarlah. Dan jika pada akhirnya terjadi sesuatu yang tidak Anda harapkan, tetaplah percaya bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.
Yang terpenting, jangan kembali kepada dosa yang sama dan jangan berputus asa dari rahmat Allah. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, bukan sebagai penjara yang membuat Anda tidak mampu menjalani kehidupan.
Semoga Allah menerima taubat Anda, mengampuni dosa-dosa Anda, memperbaiki hati Anda dan suami, memulihkan kepercayaan yang telah rusak, serta memberikan jalan terbaik bagi rumah tangga dan masa depan Anda.
Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (AS)