Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya seorang istri dan juga ibu dengan 2 orang anak, anak pertama laki-laki usia 6 tahun, anak kedua perempuan usia 3 tahun. Usia pernikahan saya dan suami baru 7 tahun, sejak 2 tahun terakhir ini suami kecanduan judol hingga hutang kami menggunung, suami sering berbohong masalah gajinya yang selalu bermasalah. Sejak april 2026 suami mengaku sudah berhenti judol dan bertekad untuk taubat, saat ini saya berusaha untuk bertahan dengan suami demi anak anak. Saya selalu ditekan oleh keluarga terutama ibu untuk cerai dari suami, namun saya masih memilih bertahan. Saya dan suami saat ini LDR dan saling menjaga komitmen untuk memperbaiki semuanya. saya merasa banyak perubahan baik dari suami, namun ujian datang bertubi tubi. pertanyaannya, apakah ujian yang datang ini tanda bahwa saya dan suami tidak berjodoh? atau ujian ini memang fase normal dalam pernikahan? mohon pencerakannya ? terima kasih ?
Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Kami memahami jika Anda merasa ragu dan bertanya-tanya mengenai ujian yang sedang Anda alami. Terlebih, ujian tersebut datang justru ketika Anda dan suami sedang berupaya memperbaiki kondisi keluarga yang sebelumnya terdampak oleh perilaku judi online (judol) yang dilakukan oleh suami.
Ketika suami mulai berusaha memperbaiki diri dan meninggalkan kebiasaan buruk tersebut, justru datang berbagai ujian secara bertubi-tubi. Hal ini tentu membuat Anda bertanya-tanya: apakah ujian yang datang ini merupakan pertanda baik atau justru pertanda buruk?
Perlu dipahami bahwa ujian merupakan sebuah keniscayaan dalam kehidupan seorang mukmin. Allah Ta'ala berfirman:
وَلَـنَبۡلُوَنَّكُم بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَ ۙ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Karena itu, datangnya ujian tidak selalu berarti bahwa Allah sedang memberikan pertanda buruk. Ujian bisa menjadi sarana untuk menguatkan iman, menghapus dosa, dan mengangkat derajat seorang hamba. Bahkan, semakin kuat iman seseorang, semakin besar pula ujian yang bisa dihadapinya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang manusia yang paling berat ujiannya. Dari Mush'ab bin Sa'id, dari ayahnya, ia berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً
“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
«الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ»
“Para Nabi, kemudian orang-orang yang semisal mereka, lalu yang semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya kuat, maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Seorang hamba senantiasa mendapatkan cobaan hingga akhirnya ia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR. Tirmidzi)
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengatakan:
“Apabila cobaan semakin berat, maka bagi seorang mukmin yang saleh, hal itu menjadi sebab terangkatnya derajat dan bertambahnya pahala.”
Karena itu, merupakan sesuatu yang wajar apabila Anda menghadapi ujian justru ketika Anda dan suami sedang berusaha memperbaiki keadaan keluarga. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa banyaknya ujian berarti usaha memperbaiki rumah tangga tersebut tidak mendapatkan keberkahan.
Yang terpenting adalah bagaimana Anda dan suami menghadapi ujian tersebut. Jika suami benar-benar berusaha meninggalkan judi online, memperbaiki diri, bertobat kepada Allah, dan kembali menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami, maka dukunglah proses tersebut dengan tetap memberikan nasihat dan dukungan yang baik. Di sisi lain, suami juga harus membuktikan kesungguhannya dengan perubahan nyata, bukan hanya dengan janji.
Jangan pula terlalu khawatir dengan munculnya masalah dalam perjalanan rumah tangga. Setiap keluarga memiliki fase-fase ujian dan konflik yang berbeda. Persoalan yang muncul dapat menjadi sarana bagi suami dan istri untuk belajar menjadi lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, dan lebih memahami hak serta kewajiban masing-masing.
Jika ujian tersebut dapat dilalui dengan sabar, komunikasi yang baik, dan kesungguhan untuk memperbaiki diri, insya Allah rumah tangga justru dapat menjadi lebih kuat setelah melewati masa-masa sulit tersebut.
Setiap ujian pasti ada akhirnya. Ingatlah bahwa badai tidak selamanya berlangsung. Kesulitan yang dihadapi dengan sabar dan benar dapat menjadi jalan menuju keadaan yang lebih baik.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bish-shawab. (AS)