Menantu Dan Mertua

Pernikahan & Keluarga, 28 Agustus 2026

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum. Saya, suami dan anak2 tinggal satu rumah dengan ibu mertua. (Ayah mertua sdh wafat). Karena kami tidak diizinkan pindah. Suami hanya 2 bersaudara. Saudara peremouannya tinggal di luar kota dgn keluarganya. 1 rumah dgn mertua masyaa Allah ujiannya sgt banyak. Beliau lumayan mengatur, jika bilang terserah tapi tidak cocok pun marah. Pembantu keluar masuk karena tidak cocok dengan ibu.

Sekarang ibu mertua memusuhi iparnya (adik dari ayah mertua). Suami dilarang membantu keluarga dari ayah. Posisi saya dan suami tentu serba salah. Karena kami mengetahui jelas2 ibu mertua yang salah. Tapi beliau tidak bisa dinasehati. Malah marah. Sedangkan putrinya (saudara perempuan suami), sama saja. Karena dia juga sama, tidak cocok dgn kel ayah. 

Bagaimana sikap saya di posisi yg serba salah ini thd mertua? Dan thd tante?

Tantenya suami pun sering curhat thd saya, walau saya menolak mengingat posisi saya yg seeba salah. Dan spy saya tetap hormat dgn mertua. Jazaakumullah khayr.



-- Rena (Jakarta)

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Kami memahami posisi Anda yang serba salah. Tinggal serumah dengan mertua memang memiliki banyak tantangan, apalagi jika mertua cukup mengatur dan mudah marah ketika keinginannya tidak diikuti.

Dalam kondisi seperti ini, Anda tetap harus menghormati ibu mertua. Namun, menghormati mertua tidak berarti harus mengikuti semua keinginannya, terutama jika keinginannya berkaitan dengan sesuatu yang tidak benar atau menzalimi orang lain. Allah Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Karena itu, jika ibu mertua sedang berselisih dengan keluarga dari pihak ayah mertua, Anda tidak perlu ikut memusuhi mereka. Hormati ibu mertua, tetapi jangan ikut membenarkan jika beliau melakukan kesalahan.

Begitu juga dengan suami. Suami wajib berbakti kepada ibunya, tetapi tidak berarti ia harus memutus hubungan dengan keluarga ayahnya hanya karena ibunya melarang. Jika mereka masih memiliki hubungan kekerabatan dan tidak ada hal yang melanggar syariat, suami tetap boleh menjaga silaturahmi dan berbuat baik kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, suami hendaknya melakukan hal tersebut dengan cara yang bijaksana sehingga tidak semakin memperbesar konflik dengan ibunya.

Adapun mengenai tante yang sering curhat kepada Anda, sikap Anda untuk berhati-hati sudah tepat. Jangan menjadikan diri Anda sebagai pihak yang terlibat dalam konflik antara mereka. Anda boleh mendengarkan seperlunya, tetapi jangan ikut membicarakan keburukan ibu mertua, jangan menyampaikan kembali semua ceritanya, dan jangan menjadi perantara yang justru memperbesar masalah.

Anda juga tidak perlu menjadi orang yang menyelesaikan konflik antara mertua dan tante. Tanggung jawab utama Anda adalah menjaga rumah tangga, mendidik anak-anak, menghormati mertua, dan menjaga hubungan baik dengan keluarga suami.

Jika ibu mertua sulit menerima nasihat, jangan memaksakan diri untuk berdebat atau mengatakan bahwa beliau yang salah. Sampaikan nasihat dengan lembut jika memang ada kesempatan. Jika tidak memungkinkan, cukup tunjukkan sikap yang benar melalui perilaku Anda.

Yang juga perlu dipertimbangkan adalah tinggal terpisah dari mertua, terutama jika tinggal serumah justru membuat hubungan semakin banyak konflik. Tinggal terpisah bukan berarti meninggalkan atau tidak berbakti kepada ibu. Rumah bisa dicari di tempat yang tidak terlalu jauh sehingga suami tetap bisa mengunjungi dan membantu ibunya.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat.Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc