/**/

Pernikahan Tanpa Intimacy

Pernikahan & Keluarga, 11 September 2026

Pertanyaan:

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Afwan ustadz mau bertanya. Rumah tangga saya sedang dilanda ujian dan badai besar. Tahun lalu, saya berkhianat terhadap suami saya, saya berzina dengan pria lain (semoga Allah ampuni). Saat itu, saya sebenarnya sudah dapat hidayah, namun mungkin tidak saya ambil hidayah tersebut, saat itu saya menunda untuk mengakhiri hubungan itu. Hingga akhirnya suami saya mengetahui hubungan terlarang tersebut. Setelah suami saya mengetahui hubungan tersebut, saya dan suami awalnya masih bisa komunikasi, masih ada intimacy, masih ada kontak fisik, dll. Setiap hari, hari hari kita dipakai untuk mencari tau akar masalah kenapa saya bisa terjatuh ke dalam dosa se hina itu. Padahal saya dan suami dulu hijrah bareng, belajar agama bareng, sampai di titik kami tidak pernah bersentuhan dengan lawan jenis. Jadi hal ini sangat mengagetkan suami saya. Saat ini, saya dan suami semakin tidak ada intimacy nya. Kami sudah sangat jarang bersentuhan, suami saya merasa ilfiel sama saya, dan tidak mau menyentuh ataupun disentuh saya. Sekedar oegangan tangan pun dia tidak mau kecuali anak kami yang menyuruh kami pegangan tangan. Tapi hikmah nya, setelah kejadian tersebut, saya maupun suami jadi lebih banyak beribadah, kami muhasabah, dan kami menyadari selama ini banyak dosa yang kami lakukan tidak disadari. Karna kejadian ini, saya maupun suami jadi lebih baik dalam beribadah, lebih berhati hati terhadap dosa, solat tidak ditunda tunda, meninggalkan banyak perbuatan yang melalaikan. Kami bingung ustadz, antara harus berpisah atau bertahan. Karna kalo berpisah, artinya kami berdua akan pulang ke rumah orang tua masing-masing. Dimana anak kami akan bulak balik tinggal disana karna kami sepakat untuk co parenting kalo berpisah. Dimana kondisinya, rumah ortu saya disana ada kakak kakak saya yang masih suka minum alkohol dan semua perokok. Dirumah ortu suami pun semua merokok dan adik nya suka pacaran disana. Disana juga kental dengan musik, sedangkan saya dan suami sedang ikhtiar menjadikan anak kami hafidz qur'an in sya Allah. Suami saya masih menafkahin saya secara lahir, keperluan saya semua tercukupi, dia juga masih mendidik saya, mengingatkan hal hal baik, memeberikan pendidikan, dan penjagaan. Saya pun masih melakukan kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga. Seluruh keperluannya saya urusin tanpa diminta, kami masih mengobrol tentang hobi, masih pergi bersama, jalan jalan bersama. Hanya saja perasaan suami yang berubah kepada saya. Ia tidak mau kontak fisik sama saya. Anehnya, rasa cinta dan sayang saya terhadap suami bertambah semenjak sering denger kajian tentang rumah tangga. Masalah itu menghancurkan hati kami, terutama suami saya. Namun di sisi lain, mendekatkan kami pada Allah. Ustadz, apakah wanita yang pernah gagal menjaga kehormatannya masih bisa mendapatkan fadilah masuk surga dari pintu mana saja jika ia sungguh sungguh bertaubat?

Dan apakah boleh mempertahankan rumah tangga dengan melepas hak biologis agar tidak memberatkan suami akan hak istri? Karna saya sadar ini salah saya, dan saya gamau dia berat di akherat karna tidak mau memberikan nafkah batin pada saya?

Dan apakah saya berdosa kalo suami tiap hari kesel jika ingat kesalahan saya yang lalu? Walaupun saat ini saya sudah berusaha jadi istri yang taat sepenuhnya, menjaga adab pada suami, dll?

Apakah saya berdosa jika saya tidak melayani suami saya? Saya sudah bilang jika dia butuh saya siap, tapi emang dia nya yang gamau, dan saya hormati keputusan dia.

Maaf ustadz pertanyaanya panjang ?



-- Rita (Surabaya)

Jawaban:

Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tidak lepas dari izin Allah. Perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan manusia terjadi dalam kehendak dan izin Allah, tetapi bukan berarti Allah meridhai perbuatan buruk tersebut. Allah mencintai kebaikan dan membenci kemaksiatan. Karena itu, kewajiban kita sebagai manusia adalah mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dan memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan.

Anda telah berselingkuh dan berzina dengan laki-laki lain. Perbuatan tersebut telah melukai hati suami dan membuat sikapnya berubah. Meskipun demikian, suami Anda masih bersikap baik kepada Anda dan anak-anak, masih memberikan nafkah lahir, serta tetap mendidik dan memperhatikan anak-anak. Hanya saja, ia tidak lagi bersikap intim seperti sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat Anda galau dan bimbang: apakah harus mengakhiri pernikahan atau menerima sikap suami dengan sabar, termasuk jika untuk sementara Anda tidak mendapatkan nafkah batin.

Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya Anda bersabar dan menerima keadaan dengan lapang dada. Sikap suami yang berubah setelah mengetahui dirinya dikhianati adalah sesuatu yang dapat dipahami. Terlebih, sebelumnya Anda dan suami sama-sama berusaha membangun kehidupan yang lebih baik melalui hijrah bersama.

Namun, jangan berhenti pada rasa bersalah. Jadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk melakukan taubat nasuha. Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)

Taubat yang sungguh-sungguh dilakukan dengan meninggalkan dosa, menyesalinya, memohon ampun kepada Allah, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Setelah itu, iringilah taubat dengan memperbanyak amal kebaikan sebagai bukti kesungguhan dalam memperbaiki diri.

Selama suami masih menunaikan kewajibannya sebagai suami dan Anda masih mampu menunaikan kewajiban sebagai istri, berusahalah mempertahankan rumah tangga dengan penuh kesabaran. Jangan menuntut suami untuk segera kembali seperti dahulu. Berikan kepadanya waktu untuk memulihkan luka dan membangun kembali kepercayaan.

Tunjukkan perubahan melalui sikap, bukan sekadar kata-kata. Jadilah istri yang lebih jujur, setia, menjaga kehormatan diri, dan berusaha menjadi pasangan yang baik. Semoga dengan kesungguhan taubat dan perubahan yang Anda tunjukkan, seiring berjalannya waktu hati suami menjadi lebih tenang dan hubungan kalian dapat kembali membaik.

Jangan menjadikan kesalahan masa lalu sebagai alasan untuk terus larut dalam penyesalan. Ambillah pelajarannya, perbaiki diri, dan bangun kembali rumah tangga dengan kejujuran, kesetiaan, kesabaran, dan ketakwaan kepada Allah.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc