/**/

Berbeda Pandangan

Pernikahan & Keluarga, 12 September 2026

Pertanyaan:

assalamualaikum ustad, izin bertanya.

saya dan suami memiliki pandangan yang berbeda ttg arti pasangan hidup. menurut suami, seorang pasangan harus bs rela berkorban jiwa, raga, harta, tahta dan harus tulus. sdgkan menurut saya namanya hidup berpasangan harus terbuka, jujur, dan tdk ingkar janji. namun, saya tidak menyalahi pendapat suami krn mnrt saya ini hanya soal bahasa cinta dan kasih. knp suami saya berpendapat begitu krn beliau dari sblm nikah dgn saya smpai sdh menikah memiliki hutang dan sesaat setelah menikah bisnisnya satu-satu chaos. dari sblm menikah dgn saya dia sudah meminjam uang tabungan saya dan berjanji akan kembalikan. lalu saat setelah menikah dan finansialnya chaos dia maminjam uang lagi dan menjanjikan jika ada uang lansung akan dibayar ke sya. namun kenyataannya setiap ada uang dia mendahulukan bayar ke org lain dulu bahkan utk nafkah ke saya pun jadi sering lalai. dan setiap saya tagih, suami blg kalo saya tdk pernah mengerti dan egois cm memikirkan harta. dan dia jg blg, harusnya kalo sudah menikah wlaupun itu uangmu aku pinjam ga sepantasnya km suruh aku utk mencicil. biar aku selesaikan urusan ke orang2 dulu baru ke km. bahkan mobil saya yg saya beli dr sblm menikah saya kasih pinjam bbrp waktu lalu krn semua mobil beliau ditarik leasing, dia pakai utk kerja dan kebutuhan antar jemput kepentingan mertua dan anak2 sambung saya, sementara saya sering dibiarkan dan mengalah naik taksi online. dan beliau bilang, saya perhitungan sekali. padahal harusnya sudah tidak ada lagi harta saya atau harta km krn kita sudah suami istri. bagaimana menurut ustad, apa saya berdosa dan salah menagih uang yg ia janjikan kembalikan dari jaman sblm menikah? dan apa saya salah mengambil alih mobil saya krn saya merasa tdk dihargai saya mesti mengalah dlm menggunakan mobil saya sendiri.



-- Fitri (Bekasi)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Suami Anda memiliki utang kepada Anda yang sebagian diberikan sebelum menikah dan sebagian lagi setelah menikah untuk menopang bisnisnya. Selain kepada Anda, suami juga memiliki utang kepada orang lain. Ketika mendapatkan penghasilan dari bisnisnya, ia lebih dahulu membayar utangnya kepada orang lain. Sementara ketika Anda menagih utang tersebut, ia justru menganggap Anda egois dan hanya memikirkan diri sendiri.

Tentu keadaan tersebut dapat membuat Anda kecewa dan merasa kurang diperhatikan, terlebih ketika Anda membutuhkan mobil tetapi harus mengalah karena suami lebih mendahulukan kepentingan orang tuanya.

Untuk menjembatani perbedaan pandangan antara Anda dan suami, jalan terbaik adalah musyawarah dan dialog yang tenang serta terbuka. Suami perlu memahami alasan dan kebutuhan Anda, sebagaimana Anda juga perlu memahami alasan suami dalam menentukan prioritas. Dengan saling memahami alasan di balik sikap masing-masing, diharapkan tumbuh sikap saling menghargai dan sabar dalam menghadapi perbedaan.

Perlu dipahami bahwa harta istri adalah hak penuh istri. Suami tidak boleh mengambil atau menggunakan harta istrinya tanpa kerelaannya. Demikian pula, harta suami tetap merupakan hak suami, meskipun keduanya memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga sesuai dengan kewajiban masing-masing.

Jika suami membutuhkan harta istri untuk membantu menopang kehidupan keluarga atau mengembangkan usaha, hendaknya dilakukan dengan kerelaan dan kesepakatan, bukan dengan paksaan. Sebaliknya, istri juga hendaknya mempertimbangkan kebutuhan keluarga dengan penuh kebijaksanaan dan semangat saling membantu.

Demikian pula dalam penggunaan barang milik istri. Jika istri memiliki mobil, misalnya, maka pada dasarnya ia memiliki hak untuk menentukan penggunaannya. Namun, dalam kehidupan rumah tangga, segala sesuatu sebaiknya dibicarakan dengan baik agar tidak menimbulkan rasa tidak dihargai atau diperlakukan tidak adil.

Pada akhirnya, perbedaan dalam masalah harta, utang, maupun prioritas keluarga hendaknya tidak sampai meruncing menjadi konflik yang lebih besar, apalagi berujung pada perceraian. Bangunlah komunikasi, saling memahami, dan carilah jalan keluar yang adil melalui musyawarah.

Semoga Allah memberikan kemudahan, kesabaran, dan jalan terbaik bagi Anda dan suami dalam menyelesaikan persoalan ini.

Wallahu a’lam bishowab.
(as)



-- Amin Syukroni, Lc