/**/
Bismillah, Saya punya pertanyaan terkait mertua saya Ustadz. Mertua saya ini sudah bercerai jadi masing2 sudah punya keluarga dan qadarullah mertua perempuan saya ini bercerai lagi, jd sekarang statusnya janda. Mertua perempuan saya ini adalah seorang pensiunan PNS dan memiliki usaha yaitu warung makanan. Hubungan kami awalnya baik2 saja, sampai pada satu waktu sy dituduh melarang suami sy berbakti kepada beliau, sampai2 sy dikatai anak durhaka dan kurang ajar olehnya. Jujur sy sakit hati sekali diperlakukan demikian. Padahal sedikitpun sy tdk pernah melarang suami sy utk berbakti kepada ibunya. Sy pun tak pernah mempermasalahkan ttg berapa pemberian sumi sy ke ibunya. Tapi mertua sy ini selalu mempermasalahkan setiap suami sy memberi kan sesuatu kepada sy. Skg beliau ini meminta uang sebesar 52 juta kpd sy dan suami dgn alasan utk membayar utang. Pdhal selama ini rutin diberikan uang bulanan 10juta/bulan (jauh diatas nominal nafkah yg diberikan kpd sy dan anak2), diberikan fasilitas mobil, dibantu utk renovasi warung makan. Sy herannya selalu suami sy sj yg dituntut demikian pdhal ada anaknya yg lain jg sdh berpenghasilan. Jika suami sy tdk menggubris maka beliau akan mengungkit ttg pengorbanannya menjadi seorang ibu. Pertanyaan sy, bagaimana sy sbg seorang istri menyikapi hal ini. Jujur skg sy sdh menjaga jarak dgn beliau bahkan sy mngkin bisa dibilang trauma berhadapan dgn beliau. Terima kasih sebelumnya
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Sikap Anda untuk mengambil jarak dengan mertua yang telah memfitnah Anda dapat dipahami, selama menjaga jarak tersebut tidak sampai memutuskan silaturahmi. Tetaplah berusaha menghormati beliau, tidak membenci, tidak membalas keburukan dengan keburukan, serta tetap bersikap adil.
Mertua Anda sebelumnya telah mendapatkan pemberian dari anaknya berupa uang sebesar Rp10 juta setiap bulan dan fasilitas mobil. Selain itu, beliau juga memiliki usaha makanan. Karena itu, apabila saat ini beliau kembali meminta uang sebesar Rp52 juta dengan alasan untuk membayar utang, persoalan tersebut sebaiknya dibicarakan secara terbuka dan bijaksana. Membantu orang tua merupakan bentuk bakti yang mulia, tetapi kemampuan anak dan kondisi keuangan keluarga juga perlu dipertimbangkan agar bantuan tersebut tidak justru menimbulkan persoalan baru dalam rumah tangga.
Apabila kemudian Anda dituduh sebagai menantu yang menghalangi anaknya memberikan uang kepada ibunya, bahkan disebut sebagai anak yang durhaka, sebaiknya Anda tidak membalas tuduhan tersebut dengan tuduhan yang sama. Hindari memperbesar konflik dan serahkan penilaian kepada Allah. Pengorbanan orang tua dalam membesarkan anak memang sangat besar dan wajib dihargai. Namun, pengorbanan tersebut tidak semestinya dijadikan alasan untuk menekan anak atau menuntut sesuatu di luar kemampuannya.
Karena itu, tetaplah menghormati mertua sebagai orang tua. Namun, Anda juga memiliki hak untuk menjaga diri, rumah tangga, dan ketenangan keluarga. Jika diperlukan, ambillah jarak secukupnya dengan tetap menjaga adab, silaturahmi, dan komunikasi yang baik.
Semoga Allah memberikan kesabaran, kebijaksanaan, dan jalan terbaik bagi Anda dan keluarga dalam menghadapi persoalan ini. Wallahu a’lam bishowab. (as)