/**/

Istri Meeasa Kurang Nafkah

Pernikahan & Keluarga, 26 September 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr.wb

Saya seorang suami dengan 2 anak, saya dan istri sangat sering bertengkar yang kalau saya perhatikan masalah utamanya adalah masalah ekonomi, intinya penghasilan sy tidak mampu untuk memeduhi kebutuhan rumah tangga, sebagai informasi istri juga bekerja dan penghasilanya lebih besar dari saya, saya juga tinggal dirumah istri (ikut istri). Dulu saat saya masih menjadi karyawan swasta gaji saya sepenuhya saya serahkan ke istri, untuk transpot kerja dan lainya sy minta ke istri, sampai ahirnya sy berunding dengan istri mencoba buka usaha dirumah dengan resiko pendapatan tidak tetap, dan istri setuju.. tapi ahir² ini masalah lebih sering terjadi dan bertengkar, istri menuntut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, bukan saya tidak mau tapi usaha saya benar² sedang sepi, jangankan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, jika saya gunakan untuk kebutuhan saya sendiripun tidak cukup, sampai istri mengungkit bahwasanya selama ini saya tidak memikirkan dan memenuhi kebutuhan keluarga, saya malas bekerja, saya tidak mau bantu² keluarga, sampai istri minta cerai. Saya sendiri buka usaha bengkel mobil dirumah, tapi keterbatasan alat kemampuan dan koneksi, jadi memang usaha saya tidak cepat berkembang, sebagian dari jasa atau penghasilan tetap sy berikan ke istri untuk keperluan rumahtangga, sebagian lagi saya gunakan untuk menambah alat bengkel yg dibutukan, dan sebagian saya kumpulkan untuk bayar sekolah anak.

Sy juga menerima pekerjaan serabutan, bisa dibilang kalau ada yang menyuruh/minta tolong asal sy bisa dan bengkel tidak ada garapan sy sanggupi dan saya kerjakan. Singkatnya penghasilan Saya, saya bagi kurang lebih 3 bagian yang tidak selalu masa, dengen perincian diatas.

 Untuk pekerjaan pokok saya di bengkel, saya sendiri tidak mematok jam kerja, karna seringnya pelanggan datang siang/sore dan minta malam/paginya sudah jadi. Jadi saya bekerja bisa sampai pagi/tidak tidur. Sy juga menerima panggilan jika masih memungkinkan. Karena memang tidak setiap hari ada mobil masuk

Untuk pekerjaan rumah memang saya hanya bantu cuci baju. Dan kalau memang benar² tidak ada pelanggan di bengkel dan tidak ada pekerjaan lain saya gunakan untuk tidur/istirahat/beres² bengkel.

Pertanyaan:

1. Jika istri minta pisah/cerai dan tidak menghargai saya beserta usaha saya dengan kondisi yang demikian apakah bisa dibenarkan?

2. Apakah saya termasuk lalai dalam memberi nafkah

3. Apakah saya teemasuk orang malas bekerja

4. Apa yang seharuanya saya lakukan

Demikian, keluh kesah dan pertanyaan saya, mohon jawananya, terimakasih

Wassalamualaikum wr.wb



-- Indra (Magelang)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Menanggapi keluh kesah sekaligus pertanyaan Anda, dapat kami berikan tanggapan sebagai berikut:

  1. Tentang permintaan cerai karena kondisi ekonomi

Jika Anda sudah bekerja keras, mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi istri meminta cerai karena kondisi ekonomi akibat usaha bengkel mobil yang belum mampu memenuhi standar ekonomi yang diharapkannya, maka masalah tersebut sebaiknya tidak langsung diselesaikan dengan perceraian.

Apalagi keputusan untuk berwirausaha tersebut sebelumnya telah menjadi kesepakatan bersama antara Anda dan istri, hingga Anda meninggalkan pekerjaan sebelumnya.

Dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri hendaknya belajar untuk saling menghargai perjuangan dan kebaikan masing-masing. Jangan sampai berkurangnya kemampuan ekonomi pada suatu masa membuat seseorang melupakan berbagai kebaikan yang telah diberikan pasangannya selama ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan tentang neraka yang diperlihatkan kepada beliau:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ. قَالُوا: لِمَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: بِكُفْرِهِنَّ. قِيلَ: يَكْفُرْنَ بِاللهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku melihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Para sahabat bertanya, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Mereka bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka mengingkari kebaikan suami dan mengingkari kebaikan yang telah diberikan kepadanya. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu yang tidak disukainya darimu, niscaya ia berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini merupakan peringatan agar seseorang tidak mudah melupakan kebaikan pasangan hanya karena menemukan kekurangan atau kesulitan dalam rumah tangga. Namun, hadis tersebut juga tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk menggeneralisasi bahwa semua perempuan memiliki sifat demikian.

Karena itu, jika istri Anda merasa kurang dalam hal nafkah, sebaiknya masalah tersebut dihadapi dengan komunikasi dan musyawarah, bukan dengan saling menyalahkan.

  1. Tentang anggapan bahwa Anda malas

Jika Anda telah mencurahkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan bekerja hingga larut malam ketika diperlukan, maka tidak tepat jika Anda langsung dinilai sebagai orang yang malas hanya karena hasil usaha belum sesuai dengan harapan.

Perlu dibedakan antara tidak mau bekerja dengan sudah bekerja keras tetapi hasilnya belum maksimal. Anda telah berusaha, sedangkan hasil merupakan sesuatu yang tidak selalu dapat ditentukan sepenuhnya oleh manusia.

Karena itu, jangan terlalu terbebani oleh penilaian tersebut. Evaluasilah usaha yang sudah dilakukan dan terus perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Hasil yang belum maksimal bukan berarti Anda adalah seorang yang malas.

  1. Yang sebaiknya dilakukan

Sikapi persoalan ini dengan musyawarah dan komunikasi yang terbuka bersama istri. Bicarakan dengan tenang apa yang selama ini telah Anda jalani, mulai dari pekerjaan, penghasilan, kebutuhan keluarga, hingga bagaimana penghasilan tersebut dikelola.

Bisa jadi ada tuntutan atau harapan tertentu dari istri yang muncul karena ia belum memahami secara utuh kondisi usaha, penghasilan, dan beban yang Anda tanggung. Sebaliknya, Anda juga perlu mendengarkan apa yang sebenarnya menjadi kekhawatiran dan kebutuhan istri.

Jika komunikasi dilakukan dengan jujur dan terbuka, insya Allah akan tumbuh sikap saling memahami. Dari sana, suami dan istri dapat mencari jalan keluar bersama, saling membantu, dan saling menguatkan dalam menghadapi kesulitan ekonomi.

Rumah tangga bukan tempat untuk saling menuntut kesempurnaan, tetapi tempat bagi suami dan istri untuk saling membantu dalam menghadapi ujian kehidupan.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc