Pertanyaan:
Assalamu'alaikum. Ustadz, jika ibu mertua dzolim terhadap saya sebagai menantu petempuannya. Sejauh apa batasan kita bersikap/berinteraksi dengan beliau? Sedangkan saya 1 rumah. Pisah rumah tidak diizinkan, tapi 1 rumah sering difitnah, direndahkan, tidak dihargai. Alhamdulillahnya suami tahu kelakuan ibunya, jadi membela saya. Jika menasihati ibunya, ibunya marah dan teriak2 sehingga suami diam. Dan tdk melanjutkan pembicaraannya. Tdk ada yg bisa menasehati beliau lg, jk merasa terdesak, makan akan kena fitnah juga atau dimusuhi. Jazakallah khayr.
--
Anonim (Mana-mana)
Jawaban:
Wa'alaikumussalaam warahmatullahi wa barakaatuh.
Menghadapi ibu mertua yang bersikap dzolim, sering memfitnah, dan merendahkan adalah ujian yang sangat berat, terlebih anda tinggal satu rumah. Dalam kondisi di mana mertua tidak bisa dinasihati dan suami sudah berusaha membela namun terbatas, anda perlu mengambil langkah penyelamatan kesehatan mental dan spiritual.
Secara hukum Islam, berikut adalah batasan sikap dan interaksi yang bisa anda terapkan:
1). Batasan Interaksi (Menjaga Jarak)
- Berbicaralah hanya untuk hal-hal yang penting, mendesak, atau demi kesopanan dasar (seperti menyapa atau menjawab pertanyaan). Hindari obrolan santai yang berpotensi membuka celah fitnah atau konflik.
- Jika mertua sedang berada di ruang tengah, anda bisa memilih untuk berada di kamar atau area lain. Ini bukan berarti memusuhi, melainkan menghindari gesekan (preventif).
- Sebagai orang yang lebih muda dan menantu, tetaplah menjaga adab makro (tidak membentak, tidak memaki balik). Cukup layani atau bantu hal-hal umum di rumah semampu anda tanpa perlu mengharapkan pujian atau validasi dari beliau.
2). Membangun "Benteng" Bersama Suami
- Alhamdulillah, suami berada di pihak anda: Ini adalah modal terbesar anda. Karena suami tahu tabiat ibunya, bicarakan dari hati ke hati bahwa anda ingin mengambil jarak aman demi kesehatan mental anda dan keharmonisan rumah tangga.
- Jika ibu mertua mulai berteriak atau marah, sepakati dengan suami untuk tidak membalas atau mendebat. Orang dengan tipe seperti ini akan semakin histeris jika dilawan. Menyingkir dengan tenang adalah pilihan terbaik saat konflik memuncak.
- Jika fitnahnya sudah merugikan nama baik anda secara luas, cari tahu apakah ada sosok yang sangat dihormati oleh beliau (misalnya kakak kandungnya, tokoh agama, atau sesepuh keluarga) yang opininya masih mau beliau dengar.
3). Perlindungan Diri dari Fitnah
- Pastikan suami selalu tahu apa yang terjadi setiap harinya agar mertua tidak bisa memutarbalikkan fakta di depan suami.
- Ketika beliau merendahkan anda, tanamkan di pikiran bahwa ucapan beliau adalah cerminan dari masalah psikologis atau ketidakbahagiaan di dalam diri beliau sendiri, bukan karena anda tidak berharga.
- Karena manusia tidak ada yang bisa menasihatinya, serahkan kepada Pemilik Hati. Doakan agar beliau diberi hidayah dan kelembutan hati, sekaligus amalkan doa perlindungan dari orang yang dzolim.
4). Meninjau Kembali Opsi "Pisah Rumah"
Meskipun saat ini tidak diizinkan (mungkin oleh mertua), dalam Islam, seorang istri memiliki hak penuh untuk mendapatkan tempat tinggal yang aman dan mandiri (maskan) dari suaminya, terbebas dari gangguan orang lain termasuk mertua.
Jika kondisinya sudah sangat merusak kesehatan mental anda, cobalah diskusikan kembali dengan suami secara perlahan untuk mengontrak atau kos, meskipun awalnya akan memicu kemarahan besar dari ibu mertua. Seringkali, jarak justru bisa memperbaiki hubungan yang rusak.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya. Wallahu a'lam biushshawaab.
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA