/**/

Kufur Terhadap Suami?

Pernikahan & Keluarga, 15 Oktober 2026

Pertanyaan:

Assalamualaikum, izin bertanya. 

Saya sudah menikah selama hampir 10 tahun. Dikaruniai seorang anak laki2. Dulu saya bekerja, gaji saya 3x lipat dari gaji suami. Tapi dikarenakan anak mau sekolah dan kami sempat LDM selama 2 tahun, saya memilih resign. 

Selama sy bekerja suami selalu memberikan 80% gajinya pada saya saat gajian, tp saya sering menganggapnya seperti titipan, karena menuju akhir bulan sy suka tf balik karena uangnya habis. 

Dari hasil bekerja saya, kami beli mobil dan rumah, 80% tabungan saya sudah untuk rumah dan mobil, sisanya buat kehidupan saya sehari2 karena uang dr suami tdk cukup. Sebelum resign suami meyakinkan bahwa ekonomi kita akan baik2 saja dan dia akan mencari tambahan lain. Setelah resign, ternyata suami tidak ada usaha untuk mencari tambahan. Dan tabungan saya dari pesangon bekerja lama2 terkuras untuk mencukupi hidup bahkan emas2pun sudah sy jual. 

Suami terlihat tenang saja, saya sdh resign lebih dari 2 tahun, tapi suami masih dengan 1 penghasilan sehingga selalu saya harus menambal pengeluaran dari tabungan dan investasi saya. 

Hampir tiap tahun ada momen2 kami mendiskusikan ini, suami terlihat menyesal tapi tidak ada action apa2 hingga sekarang. 

Dia tidak kasar, dia tetap memberi nafkah, dia peduli jika diminta. Hanya dia tidak menjadi pemimpin, dia tidak insiatif, tidak care jika tidak diminta. Tidak bisa jadi contoh dan tidak mengajarkan agama. 

Solat subuh selalu jam 6 lebih. Solat magrib diatas stgh 7. Jika saya minta dia ke masjid sekalian mengajari anak saya, dia pernah menuruti tapi udahnya marah. 

Saya tidak ingin berpisah, tapi jujur saya merasa sangat kesal dan sering "benci" jika mengingat harta dan kelakuannya yang tidak inisiatif. Saya harus bagaimana? 



-- Akhwat (Jakarta)

Jawaban:

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.

Kondisi Anda dan keluarga yang berubah membuat Anda menghadapi masalah rumah tangga yang perlu mendapatkan perhatian bersama dan solusi yang tepat, baik dari segi ekonomi maupun agama.

  1. Menata kembali kondisi ekonomi keluarga.

Kondisi ekonomi Anda dan keluarga berubah sangat drastis. Ketika Anda dan suami masih sama-sama bekerja, keluarga dapat hidup nyaman secara ekonomi. Anda dapat membantu membiayai kebutuhan hidup keluarga dan membeli berbagai fasilitas, seperti mobil dan lain sebagainya.

Namun, ketika sekarang Anda tidak lagi bekerja dan pemasukan keluarga hanya berasal dari suami, sementara pengeluaran keluarga tidak berubah, hal itu tentu akan menimbulkan masalah ekonomi. Seharusnya, ketika pemasukan berubah, pengeluaran keluarga juga disesuaikan. Jika tidak, akan terjadi seperti peribahasa: besar pasak daripada tiang.

  1. Menyusun kembali anggaran dan kebutuhan keluarga.

Anda mengetahui bahwa penghasilan suami tidak mencukupi seluruh kebutuhan keluarga. Selama ini, Anda bahkan mampu menutupi kekurangan tersebut dari penghasilan dan tabungan pribadi Anda. Namun, setelah Anda memutuskan untuk resign atau berhenti bekerja, tabungan dan uang pesangon Anda semakin lama semakin habis untuk membiayai kebutuhan keluarga.

Karena itu, Anda perlu memikirkan kembali bersama suami bagaimana menata pengeluaran keluarga. Diskusikan dengan baik mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan. Pertimbangkan pula fasilitas atau aset yang dapat menghasilkan pemasukan tambahan dan mana yang justru menambah beban pengeluaran.

Fasilitas yang berpotensi menghasilkan uang, seperti mobil, misalnya, dapat dipertimbangkan untuk disewakan atau dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan tambahan, sepanjang memungkinkan dan tidak mengganggu kebutuhan keluarga.

  1. Mencari tahu penyebab suami belum berusaha mendapatkan penghasilan tambahan.

Kebencian Anda kepada suami muncul karena Anda merasa suami tidak berusaha menepati janjinya untuk mencari penghasilan tambahan. Namun, sebelum membiarkan kebencian itu semakin mendalam, cobalah mencari tahu terlebih dahulu mengapa suami belum juga melakukannya. Apakah karena sulit mendapatkan pekerjaan atau peluang usaha, tidak mengetahui harus memulai dari mana, atau memang kurang memiliki kemauan untuk berusaha?

Setelah mengetahui penyebabnya, Anda akan lebih bijaksana dalam menyikapinya. Ajaklah suami berdiskusi untuk menemukan solusi dan menyusun langkah nyata sesuai kemampuan dan peluang yang ada. Harapannya, suami tidak hanya menyampaikan penyesalan, tetapi juga menunjukkan kesungguhan melalui tindakan.

  1. Mendekatkan diri kepada Allah dan senantiasa bersyukur.

Di tengah berbagai kesulitan, tetaplah mendekatkan diri kepada Allah dan bersyukur atas nikmat yang masih diberikan. Syukur bukan berarti menerima keadaan tanpa berusaha memperbaikinya, melainkan menyadari nikmat Allah sembari terus berikhtiar mencari jalan keluar. Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

Jadikanlah masalah ini sebagai momentum untuk membangun kembali kerja sama dalam rumah tangga, memperbaiki pengelolaan keuangan, dan meningkatkan kualitas kehidupan beragama bersama keluarga.

Demikian yang dapat disampaikan. Semoga bermanfaat dan semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi Anda dan keluarga. Wallahu a'lam bishowab. (as)



-- Amin Syukroni, Lc