Pertanyaan:
Assalamu'alaikum Ustadz,
Saya tahun lalu sempat ambil program Integrated PhD di Tokodai Jepang, selama di sana saya TIDAK PERNAH merasa deja vu (merasa sudah pernah mengalami sesuatu) SAMA SEKALI, apalagi deja reve (merasa sudah bermimpi tentang sesuatu). Dan hampir setahun ini sejak saya tarik diri dari Tokodai, cuma 2x mimpi tentang Jepang itu pun keduanya tentang kawasan Fujikawaguchiko, bukan kampus Tokodai.
Sekarang Alhamdulillah PhD di KFUPM. Semester pertama. Selama 2-3 pekan pertama di KFUPM (Agustus 2026), saya sering deja vu, merasa pernah mengalami, bahkan deja reve (merasa pernah mengalami saat mimpi) saat di lobby gedung kampus tertentu. Apa pandangan Islam?
Singkat cerita,
Tokodai -> Tidak ada dejavu/reve -> tarik diri (alasan sebenarnya adalah beda topik lab, bukan tidak ada deja vu)
KFUPM -> Deja vu/reve di awal / Alhamdulillah merasa cocok di sini, sudah menjelang 3 bulan. Apa pandangan Islam?
Apakah syirik percaya kaitan takdir dengan deja vu/reve (mimpi)? Atau lebih ke Tafa'ul?
Saya tarik diri dari Tokodai bukan tathayyur sebab melihat tidak ada dejavu/reve, melainkan perbedaan jauh pada topik lab. Terima kasih sebelumnya. Jazakallahu khairan.
--
Galih R (Dhahran, Arab Saudi)
Jawaban:
Wa'alaikumussalaam warahmatullahi wa barakaatuh.
Selamat atas studi PhD anda di KFUPM, semoga Allah mudahkan hingga lulus.
Percaya pada kaitan antara mimpi/deja vu dengan takdir tidak otomatis menjadi syirik, melainkan masuk dalam ranah Tafa'ul (berharap baik) atau Ilham (petunjuk hati) selama anda meyakini semua adalah ketentuan Allah. Tindakan anda keluar dari Tokodai karena masalah topik lab (bukan karena firasat buruk) sudah sangat tepat secara syariat dan bukan merupakan Tathayyur (merasa sial).
Berikut adalah pandangan Islam mengenai fenomena yang Anda alami :
1). Tafa'ul (Optimisme) vs Tathayyur (Merasa Sial)
- Karena anda keluar berdasarkan alasan rasional (perbedaan topik lab), anda terbebas dari tathayyur (merasa sial akibat tanda-tanda alam). Ini adalah ikhtiar medis/akademis yang sah.
- Rasa cocok dan fenomena deja vu/deja reve yang anda rasakan di KFUPM bisa digolongkan sebagai Tafa'ul. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa beliau menyukai al-fa'l (kalimat atau pertanda baik yang menumbuhkan optimisme). Merasa akrab dengan sebuah tempat baru dapat menjadi cara Allah menenangkan hati Anda agar fokus belajar.
2). Pandangan Islam tentang Mimpi (Deja Reve)
Dalam Islam, mimpi yang menjadi kenyataan atau terasa berulang memiliki dasar yang kuat:
- Ar-Ru'ya As-Sadiqah (Mansi yang Benar): Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa mimpi yang benar adalah satu dari 46 bagian kenabian.
- Petunjuk Masa Depan: Bisa jadi, mimpi tentang Jepang (Fujikawaguchiko, bukan Tokodai) adalah isyarat halus dari Allah bahwa takdir anda di Jepang memang bukan untuk kuliah, melainkan hal lain di masa depan (misalnya wisata atau konferensi).
- Penenteram Hati: Deja reve di lobby KFUPM bisa jadi adalah ilham atau pengenalan ruhani yang sebelumnya telah Allah perlihatkan dalam mimpi untuk memantapkan hati anda bahwa KFUPM adalah tempat yang berkah bagi Anda.
3). Fenomena Ruh dalam Islam (Deja Vu)
Dari sudut pandang spiritual Islam, fenomena deja vu sering dikaitkan dengan alam ruh. Allah berfirman yang artinya :
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka..." (QS. Al-A'raf: 172)
Rasulullah ﷺ juga bersabda yang artinya : "Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun. Yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu, dan yang saling asing akan berpisah." (HR. Muslim).
Deja vu bisa terjadi karena ruh anda secara spiritual merasa "mengenal" atau telah digariskan berinteraksi dengan atmosfer, tempat, atau berkah yang ada di KFUPM jauh sebelum fisik anda tiba di sana.
Demikian, semoga Allah berkenan untuk memberikan kemudahan, taufiq dan ridho-Nya. Wallahu a'lam bishshawaabn
Wassalaamu 'alaikum wrwb.
--
Agung Cahyadi, MA