/**/
Assalmu'alaikum Wr. Wb.
Saya seorang istri dengan 3 orang anak (13th, 5th, 3th). Saya dan suami sudah menjalani LDM sejak lama, pulang 1-2 bulan sekali, tergantung cuti. Dalam kurun waktu 6 bulan belakangan ini suami hanya memberikan nafkah 1x. dan kurangnya komunikasi baik antara suami dengan saya maupun anak2. Tidak ada inisiatif dari suami untuk menghubungi duluan. Alhamdulillahnya saya memiliki pekerjaan walaupun freelance, jadi saya masih bisa menafkahi dan mencukupi kebutuhan saya dan anak2 walaupun terkadang kurang. Setiap bulan saat saya minta nafkah ke suami, selalu bilangnya habis, dan alasannya selalu sama, untuk judol. Dan ada satu momen yang membuat saya merasa sangat hati sekali ustadz, saat saya mengetahui saya sakit (cancer) kemudian saya coba menyampaikan ke suami dan segala uneg2 saya, berharap suami bisa memberikan support system untuk saya, namun respon suami unpredictable dan malah memberikan opsi untuk pisah/divorce. Saya benar2 shock dan sakit hati, ustadz. Tapi sekalipun dalam kondisi down,, saya yg malah berusaha untuk menguatkan suami untuk memikirkan kembali kata2 tsb. Namun, pada bulan berikutnya menjadi makin parah sikapnya, dia tau saya dalam kondisi tidak sehat, namun dia sama sekali tidak memberikan nafkah sama sekali. bahkan tidak pernah berusaha bonding kepada anak2, baik via tlp atau berusaha pulang. kalaupun saya memintanya pulang, dia pasti selalu minta dibelikan tiket PP dan minta diberikan uang untuk pegangan. terkadang tiap bulan malah minta uang ke saya.
Saat ini saya benar2 sudah habis2an, nggak ada saving, bahkan minus, tapi tetap harus berusaha memikirkan untuk memenuhi kebutuhan saya dan anak2, dan ada cicilan suami yg harus saya tanggung. Saat saya berusaha meminta tanggungjawab dari suami, dia malah bilang kalo saya ini hanya membutuhkan uang dari dia tanpa peduli bagaimana kondisi dia. dan mulai mengungkit banyak hal dan omongannya kemana2. jadi suami playing victim ke saya,, seakan2 saya ini yg matre dan jahat ke suami. padahal saya hanya meminta pertanggungjawabannya dia atas nafkah dan tanggungan cicilannya dia saja. saya juga sudah pernah menyampaikan hal ini kepada kakaknya, dan sudah angkat tangan soal adiknya, segala keputusan diserahkan ke saya bagaimana baiknya.
Saya takut berdosa kalau harus mengajukan cerai. Namun untuk bertahan pun sungguh menyakitkan. Apalagi disaat saya dalam kondisi sakit ini pun dia menelantarkan saya dan anak2.. Apa yang sebaiknya yang harus saya lakukan? Mohon pencerahannya Ustadz..Terimakasih sebelumnya... Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuhu.
Suami dan istri adalah pasangan hidup yang saling menyempurnakan dan saling menutupi kelemahan. Kerja sama dan komitmen untuk melaksanakan tanggung jawab masing-masing merupakan kunci kebaikan dalam rumah tangga.
Kewajiban suami adalah:
Adapun kewajiban istri adalah:
Jika suami dan istri mampu melaksanakan kewajiban masing-masing dengan baik, insyaallah kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah akan tercapai. Namun, jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, dapat terjadi kezaliman terhadap pihak yang lain sehingga tujuan pernikahan tidak tercapai.
Kesalahan suami Anda tergolong serius, yaitu tidak memberikan nafkah kepada keluarga dan membiarkan Anda menanggung sendiri beban kehidupan rumah tangga karena kecanduan judi online (judol). Selama kebiasaan tersebut tidak dihentikan, judi online dapat menghancurkan bangunan keluarga yang telah Anda bangun selama belasan tahun. Anak-anak pun berisiko menjadi korban dari perilaku tersebut.
Kesalahan lain yang dilakukan suami Anda adalah tidak peduli terhadap kondisi Anda yang sedang sakit, bahkan justru ingin menceraikan Anda. Sikap seperti ini tentu sangat menyakitkan, terlebih ketika Anda membutuhkan dukungan, perhatian, dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Dengan kondisi tersebut, Anda perlu mempertimbangkan kembali kelanjutan rumah tangga ini. Suami yang terus-menerus mengabaikan kewajiban nafkah, terjerat judi online, tidak peduli terhadap kondisi istrinya, dan tidak menunjukkan upaya memperbaiki diri telah menimbulkan persoalan serius, baik dari sisi ekonomi, moral, sosial, maupun agama.
Jika suami tetap tidak mau berubah dan tidak menjalankan kewajibannya, sementara kehidupan rumah tangga terus menimbulkan penderitaan dan kemudaratan, Anda berhak mempertimbangkan untuk mengajukan perceraian melalui prosedur yang berlaku. Sebelum mengambil keputusan, jika masih memungkinkan dan aman, lakukan upaya penyelesaian melalui mediasi keluarga dengan melibatkan pihak yang bijaksana dan dapat dipercaya. Suami juga perlu didorong untuk mendapatkan bantuan agar dapat menghentikan kecanduan judi online.
Sebagai bahan renungan, ingatlah kisah istri Tsabit bin Qais yang meminta berpisah dari suaminya. Dalam hadis riwayat al-Bukhari, istri Tsabit menyampaikan bahwa ia tidak mencela agama maupun akhlak suaminya, tetapi khawatir tidak mampu menjalankan kewajibannya sebagai istri. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan jalan keluar melalui khulu' setelah memastikan persoalan yang dihadapinya.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa Islam memberikan jalan keluar bagi seorang istri yang merasa tidak mampu lagi mempertahankan kehidupan rumah tangganya. Tentu, penerapannya perlu mempertimbangkan kondisi dan ketentuan syariat yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
Semoga Allah memberikan jalan keluar terbaik bagi Anda dan anak-anak, serta membuka hati suami Anda agar bersedia bertaubat, meninggalkan judi online, dan kembali menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah.
Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam bish-shawab. (as)