Antara Dua Hadits Kelihatan Bertentangan

Hadits, 13 Oktober 2009

Pertanyaan:

Assalamu 'alaikum Wr.Wb.
Saya bingung antara hadits yg meriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW tdk pernah menyentuh wanita, kecuali istri & budaknya. Tapi beberapa mahdzab mengatakan bahwa bersentuhan kulit antara laki-laki & perempuan tidak membatalkan wudlu. Seakan-seakan keduanya saling bertentangan. Jika menganut yg pertama berarti menggugurkan yg kedua atau sebaliknya. Mohon penjelasannya. Jazakumullah. Wassalam.



-- Diah Agustijanti (Klaten)

Jawaban:

 

 

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:

Memang ada beberapa masalah dimana hadits-hadits tentangnya tampak saling bertentangan, seperti masalah saat turun sujud mendahulukan lutut atau tangan, tentang apakah menyentuh kemaluan membatalkan wudhu ataukah tidak, tentang hukum minum sambil berdiri, tentang shalat witir sebagai penutup shalat malam, tentang qunut subuh, tentang shalat dhuha, dan lain-lain. Dan terhadap hadits-hadits yang seperti itu, manhaj, metodologi dan langkah para ulama dalam menyikapinya telah jelas, yang bisa disimpulkan dalam tiga langkah sebagai berikut:

1.      Langkah pertama, dengan memeriksa dan meneliti kedudukan dan derajat masing-masing hadits. Dimana jika terbukti bahwa, diantara hadits-hadits itu ada yang shahih (atau juga hasan) dan yang lain dha’if, maka hanya yang shahih saja yang dipakai, sedangkan yang dha’if ditinggalkan, diabaikan dan digugurkan.

2.      Langkah kedua, jika ternyata hadits-hadits yang tampak saling bertentangan itu sama-sama shahih atau sama-sama kuatnya, jika ada cara yang bisa memadukan antara keduanya, maka cara ini yang sebaiknya ditempuh dan diambil. Sehingga kedua hadits bisa tetap dipakai, tanpa ada yang digugurkan. Dan cara ini disebut dengan istilah “thariqatul-jam’i wat-taufiq” (metode penggabungan dan pemaduan).

3.      Dan langkah ketiga adalah dengan melakukan “thariqatut-tarjih” (metode memilih yang lebih kuat). Dan langkah ini ditempuh jika memang langkah kedua tidak bisa diambil, dimana antara hadits-hadits itu benar-benar tidak bisa digabungkan dan dipadukan. Maka apa boleh buat harus dipilih diantaranya yang dinilai lebih kuat, sedangkan yang lebih lemah terpaksa harus ditinggalkan dan digugurkan.

Itu tadi manhaj dan metodologi para ulama dalam menyikapi hadits-hadits yang tampak saling bertentangan. Namun isi pertanyaan Anda di atas tidak termasuk dalam kategori itu. Karena masalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyentuh seorang wanitapun yang non mahram, dan masalah persentuhan laki-laki&perempuan membatalkan wudhu (menurut sebagian madzhab tentunya), adalah dua masalah dan dua topik yang berbeda.

Sebab yang pertama berbicara tentang hukum boleh tidaknya laki-laki dan perempuan non mahram saling bersentuhan secara umum. Sementara masalah kedua terkait dengan batal-tidaknya wudhu karena persentuhan kulit antar beda jenis. Lalu topik pertama disebutkan di dalam hadits secara tekstual, sedangkan topik kedua tidak ada teks haditsnya secara khusus, melainkan merupakan masalah yang diperbedakan dan diperdebatkan di antara para ulama fiqih. Dimana ada yang berpendapat itu membatalkan wudhu, dan yang lain mengatakan tidak membatalkan. Jadi ya tidak termasuk kategori hadits-hadits yang saling bertentangan. Ditambah lagi perlu diingat bahwa madzhab yang berpendapat bahwa, hukum batal wudhu oleh persentuhan kulit antar laki-laki dan perempuan itu juga berlaku antar suami-istri!!!

Demikian jawaban dari kami, semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ila aqwamith-thariq, wa Huwal Hadi ila sawa-issabil.

 



-- Ahmad Mudzoffar Jufri, MA