Haji Badal

Haji & Umrah, 31 Agustus 2010

Pertanyaan:

Assallamualaikum wr.wb

Saya mau tanya kembali mengenai Haji Badal.
Saya dan suami berniat membadalkan kedua orang tua yg sdh tiada tetapi kami belum sama sekali menjalankan Umrah / Haji. Apa boleh kami membadal kan beliau?

Dan yg ke-2 : Saya sedang belajar membaca Al Qur'an tetapi dengan cara membaca huruf latinnya, dikarenakan saya takut salah baca dng huruf arab ( saya blm fasih benar ). Bagaimana hukumnya?

Terima kasih.


-- Eva Rostianti (Tangerang)

Jawaban:

Wa'alaikumusslam wr wb

 Dalil yang dipakai landasan diperbolehkan hasil badal, diantaranya sebagai berikut :

1. عن ابن عباس رضي الله عنه قال : ان امرأة من خثعم قالت : يا رسول الله ان أبى أدركته فريضة الله فى الحج شيخا كبيرا لا يستطيع أن يستوي على ظهر بعيره  قال : فحجى عنه                                                                  

Artinya : " Dari Ibnu Abbas, bahwa ada seorang wanita " Khats'am " berkata : Ya Rasulallah, sesungguhnya bapakku ketika datang kewajiban haji, beliau dalam keadaan sangat tua tidak lagi mampu untuk naik kendaraannya, Rasulullah – shallallahu 'alaihi wasallam - bersabda : " hajikanlah ia " ( HR. Jama'ah / Bukhori, Muslim dan yang lain )

 

2. عن ابن عباس رضي الله عنه قال : ان امرأة من جهينة جاءت الى النبي صلى الله عليه و سلم فقالت : ان أمى نذرت أن تحج فلم تحج حتى ماتت أفأحج عنها ؟ قال : نعم ، حجى عنها ، أرأيت لو كان على أمك دين أكنت قاضيته ؟ اقضوا الله، فالله أحق بالوفاء                                                              

Artinya : "Dari Ibnu Abbas, bahwa seorang wanita " Juhainah " datang kepada  Nabi – shallallahu 'alaihi wasallam – dan berkata : sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk berhaji kemudian beliau wafat sebelum melaksanakan nadzarnya, bolehkah aku menghajikannya ? Rasulullah – shallallahu 'alaihi wasallam – bersabda : " iya, hajikan ia, bagaimana pendapatmu, jika ibumu mempunyai hutang, apakah engkau akan melunasinya, lunasilah hutangnya kepada Allah, sesungguhnya hak Allah lebih utama untuk ditepati " ( HR. Bukhori dan Nasai )

3. عن ابن عباس رضي الله عنه قال : ان النبي صلى الله عليه و سلم سمع رجلا يقول : لبيك عن شبرمة ، قال : من شبرمة ؟ قال : أخ لى أو قريب لى ، قال : حججت عن نفسك ؟ قال : لا ، قال : حج عن نفسك ، ثم حج عن شبرمة                                                                                       

Artinya : " Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi – shallallahu 'alaihi wasallam – mendengar seorang laki-laki ( berniat untuk haji ) mengatakan : " aku sambut seruan-Mu -untuk haji- atas nama Syubrumah, Rasulullah – shallallahu 'alaihi wasallam – bertanya : siapakah Syubrumah ? laki-laki tersebut menjawab : saudaraku atau kerabatku, Rasulullah – shallallahu 'alaihi wasallam bertanya : sudahkah engkau pernah berhaji atas nama dirimu ?, laki-laki itupun menjawab : belum, Rasulullah –shallallahu 'alaihi wasallam – bersabda : " Hajilah atas nama dirimu, kemudian –setelah itu – hajikanlah Syubrumah " ( HR. Abu Daud , Ibnu Majah dan Daru Quthny )

Atas dasar hadits-hadits shahih tersebut, mayoritas Ulama – Hanafiyyah, Syafiiyyah, Hanabilah -, memperkenankan  haji atas nama orang lain dengan syarat sebagai berikut :

  1. Yang dihajikan/diwakili sudah meninggal atau tidak mampu melaksanakan haji karena lemah fisik ( sebagamana hadits yang pertama  dan kedua )
  2. Yang menghajikan/mewakili, sudah pernah melaksanakan haji untuk dirinya sendiri ( sebagaimana  hadits yang ketiga )

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka berarti ibu dan suami belum bisa berhaji dengan niat atas orang tua yang sudah meninggal, karena ibu dan suami belum pernah melaksanakan haji untuk sendiri

Untuk belajar Al Qur'an seyogyanya dilakukan dengan berguru kepada orang yang sudah mahir, jangan pernah belajar Al Qur'an dengan sendir, karena belajar al Qur'an dengan memakai huruf latin, akan mengakibatkan banyak kesalahan dalam memberikan hak setiap huruf Al Qur'an

Wallahu a'lam bishshawab.

Wassalamu 'alaikum wr wb.



-- Agung Cahyadi, MA