Wali Allah Tidak Mengerjakan Sholat?

Aqidah, 24 Mei 2008

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr. wb.
Saya sedang punya masalah besar. Ceritanya begini, kurang lebih 1 bulan yang lalu ada seorang putra kyai yang datang ke rumah saya. Sebagai orang yang dihormati dan dimulyakan saya harus melayani semua keinginannya terlebih dia masih keturunan guru keluarga saya ketika masih mondok dan juga disebut-sebut dia seorang waliyulloh. Masalah datang ketika setiap hari saya harus menemaninya dan seperti menjadi pembantunya, bahkan dia jarang sholat itu yang membuat saya kurang senang dengan dia. Saya lalu minta pada orang tua saya agar secepatnya dia pergi dari rumah, kalau tidak maka saya yang akan pergi. Entah kenapa dan mungkin terlalu emosi ternyata saya memilih pergi dari rumah untuk sementara waktu. Pertanyaan saya apakah dengan saya pergi dari rumah itu berarti lari dari masalah dan ujian hidup? Dan telah menelantarkan keluarga? Apakah orang seperti itu layak disebut wali? Atas jawabannya saya mengucapkan banyak terima kasih dan mohon maaf karena kalimatnya kurang tersusun dengan baik.
Wassalamu'alaikum wr. wb.

-- Mohammad (Bangkalan)

Jawaban:

Wa'alaikumussalam wr wb.

Allah swt melalui Al Qur'an telah menjelaskan kepada kita, bahwa waliyullah itu adalah orang yang beriman dan bertaqwa (QS. 10 : 62-63 ), yang diantara kriterianya tentunya ialah mereka yang mentaati Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Dan karenanya, apabila ada seseorang yang sering meninggalkan kewajibannya untuk shalat - sebagai salah satu tanda ketaatannya kepada Allah -, maka dapat dipastikan bahwa ia bukan waliyullah, karena dengan demikian akan tidak sesuai dengan definisi waliyullah sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya.

Dan sebetulnya kalau Anda tidak pergi, bahkan bisa nenasehati - dengan cara yang baik - tamu keluarga tersebut pada saat melakukan kesalahan, seperti ketika tidak shalat, maka itu akan lebih baik bagi Anda, karena kewajiban setiap muslim itu mengingkari sebuah kemungkaran yang dilihatnya.

Tetapi apabila kepergian Anda untuk sementara dari rumah tersebut, demi untuk menghindari kemungkaran yang Anda tidak mampu mengingkarinya, dan Anda sudah minta izin dengan baik-baik kepada keluarga, dan seyogyanya Anda juga tetap memberikan informasi tentang kondisi Anda, insya Allah hal tersebut tidak termasuk "lari dari ujian", bahkan itulah yang semestinya Anda lakukan, dan karenanya bila tamu keluarga tersebut telah pergi, seyogyanya anda cepat pulang dan minta maaf kepada keluarga.

Wallahu a'lam bishawab, semoga Allah senantiasa berkenan membimbing kita semua ke jalan yang diridhai-Nya.

Wassalamu 'alaikum wr wb.



-- Agung Cahyadi, MA