Larangan Dalam Pengiringan Jenazah

Aqidah, 15 Juni 2008

Pertanyaan:

Menurut adat Jawa, ada beberapa tradisi dalam mengiringi jenazah dari rumah duka menuju ke pemakaman, yaitu: TEROBOSAN DAN MENYAPU JALAN (sanak saudara yang ditinggalkan berjalan sambil menyapu dibawah keranda mayat, minimal 3x putaran). Ini dilakukan sebelum mayat dibawa ke pemakaman.
Kemudian ada tradisi SAWUR (menyebar beras kuning, bunga, dan uang receh ke jalanan yang akan dilalui oleh iring-iringan mayat hingga ke pemakaman).

Yang mau saya tanyakan:
1. apakah kegiatan tersebut diatas dilarang menurut islam?
2. jika dilarang oleh islam, apa hadits dan ayat yang menjelaskan hal tersebut?
3. dan jika tidak dilarang, apa hadits dan ayat yang menjelaskan hal tersebut?

Mohon jawabannya segera. Terima kasih.

-- Dedi Julian (Pekanbaru)

Jawaban:

Islam datang untuk menegakkan kebaikan dari Allah dan mengingkari segala bentuk takhayyul, khurofat dan tradisi serta keyakinan jahiliyah yang diwarisi dari nenek moyang atau para pendahulu (QS. 2:170).

Diantara tradisi jahiliyah yang diingkari Islam - yang berkaitan dengan kematian - misalnya niyahah (meratap/menangis yang berlebihan), mengangkat suara ketika mengantar jenazah (kecuali bila diperlukan), berkumpul dengan menyediakan makan di rumah duka setelah jenazah dikuburkan, membangun makam dan lain sebagainya.

Perihal yang Anda tanyakan, seperti tradisi terobosan, menyapu jalan, sawur (keluarga mayat berjalan sambil menyapu di bawah keranda dengan tiga putaran, menyebar beras kuning, bunga dan uang receh) adalah sebuah tradisi yang tidak pernah diajarkan oleh Islam yang semestinya tidak dilakukan oleh seorang muslim.

Dan perbuatan tersebut akan lebih munkar dan bertambah dosa, apabila dijiwai dan diyakini pada saat melaksanakannya.

Wallahu a'lam bishowab. Semoga Allah berkenan untuk memberikan petunjuk-Nya pada kita semua.

-- Agung Cahyadi, MA